Puskesmas Panik, 28 Siswa SMPN 2 Ciwaru Kuningan Kompak Mual Pusing, Keracunan MBG?
INILAHKUNINGAN – Dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), kembali terjadi di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, Sebanyak 28 siswa SMP Negeri 2 Ciwaru kini menjadi korban. Akibat merasa pusing dan mual, mereka kini dalam perawatan medis, di Puskesmas
Namun, dugaan penyebab MBG tersebut, belum dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya keluhan. Pemeriksaan medis dan penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi para siswa masih diperlukan untuk memastikan sumber persoalan.
Kepala SMPN 2 Ciwaru, Budi Harjono Aristia, M.Pd., membenarkan adanya siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
“Pak masih tetap 28, tidak ada tambahan,” ujar Budi saat dikonfirmasi mengenai jumlah siswa yang mengalami gejala.
Menurut keterangan yang diperoleh, keluhan yang dirasakan para siswa antara lain pusing dan mual. Sejumlah siswa kemudian mendapatkan penanganan serta observasi untuk memantau kondisi mereka.
“Gejalanya pusing aja sama mual itu,” imbuhnya
Pihak sekolah hingga kini masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait, termasuk fasilitas kesehatan, untuk memastikan kondisi para siswa sekaligus menelusuri penyebab munculnya keluhan secara lebih komprehensif.
Dugaan Mengarah ke MBG, Penyebab Belum Terbukti
Peristiwa ini menjadi sorotan karena terjadi dalam konteks pelaksanaan program MBG. Dalam percakapan saat proses konfirmasi, muncul informasi yang mengaitkan dugaan sumber makanan dengan dapur penyedia MBG.
Meski demikian, informasi tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab kejadian. Belum ada hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa makanan MBG menjadi penyebab siswa mengalami pusing dan mual.
Karena itu, dugaan keracunan masih harus ditempatkan sebagai dugaan, bukan fakta yang telah terkonfirmasi.
Pemeriksaan terhadap kondisi para siswa, sampel makanan apabila tersedia, serta penelusuran terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan menjadi penting untuk mengungkap apakah keluhan tersebut benar-benar berkaitan dengan MBG atau disebabkan faktor lain.
Pihak sekolah juga menyampaikan akan melanjutkan koordinasi di Puskesmas untuk memperoleh informasi medis yang lebih lengkap.
Hingga keterangan terakhir disampaikan, jumlah siswa yang mengalami keluhan masih tercatat 28 orang dan belum ada tambahan kasus.
Peristiwa ini sekaligus menjadi ujian penting bagi pelaksanaan MBG di tingkat sekolah. Di satu sisi, program tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Namun di sisi lain, keamanan pangan, kualitas bahan, proses pengolahan hingga distribusi makanan tidak boleh menyisakan ruang untuk keraguan./tat azhari



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.