ADA jalan yang setiap hari dilalui ribuan orang. Bukan jalan menuju pusat pemerintahan, bukan pula jalan menuju gedung-gedung megah tempat kebijakan dibuat. Melainkan jalan yang menghubungkan Desa Panawuan dan Desa Sangkanhurip.

Jalan yang bagi sebagian orang mungkin hanya hamparan aspal biasa, namun bagi Kuningan, jalan itu sesungguhnya adalah etalase. Ia adalah wajah pertama yang dilihat wisatawan sebelum menikmati hangatnya air Sangkanhurip; wajah yang menyambut tamu sebelum mereka menginap di hotel-hotel yang berdiri megah di sepanjang kawasan itu. Di sana ada Hotel Horison Tirta Sanita, Prima Resort, Montana, Villa Sutan Raja, dan berbagai destinasi lain yang selama ini menjadi bagian dari denyut pariwisata Kuningan.

Ironisnya, di antara bangunan-bangunan yang terus berbenah menyambut tamu, jalan yang menghubungkan semuanya justru tampak tertinggal. Lubang demi lubang menjadi pemandangan yang sulit dihindari. Aspal yang rusak menjadi cerita pertama yang dibawa pulang oleh para pengunjung.

Padahal kita sering berbicara tentang investasi, tentang peningkatan kunjungan wisata, tentang Pendapatan Asli Daerah, hingga tentang bagaimana pariwisata harus menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi Kuningan. Namun sesungguhnya, sebelum berbicara terlalu jauh tentang strategi besar, ada pertanyaan sederhana yang perlu dijawab: Bagaimana mungkin kita berharap wisatawan terkesan, jika jalan menuju destinasi unggulan saja belum memberikan kesan yang baik?

Pariwisata bukan hanya soal hotel yang nyaman. Bukan hanya soal promosi yang menarik, bukan pula sekadar baliho dan slogan yang dipasang di berbagai sudut kota. Pariwisata dimulai sejak roda kendaraan pertama kali menyentuh jalan menuju destinasi. Dari situlah pengalaman dibentuk, dari situlah kesan pertama lahir. Dan kita semua tahu, kesan pertama sering kali menentukan apakah seseorang ingin kembali atau tidak.

Karena itu, memperbaiki jalan Panawuan–Sangkanhurip bukan sekadar pekerjaan konstruksi. Ia adalah investasi untuk citra daerah, investasi untuk kenyamanan wisatawan, investasi untuk pelaku usaha yang menggantungkan harapan pada ramainya kunjungan, dan yang paling penting: investasi untuk masyarakat sekitar yang setiap hari harus berdamai dengan jalan yang sama.

Sangkanhurip selama ini dikenal karena air panas alaminya yang melegenda. Sebuah anugerah yang tidak dimiliki banyak daerah. Tetapi anugerah saja tidak cukup. Ia perlu ditunjang oleh infrastruktur yang layak. Sebab seindah apa pun destinasinya, jalan yang rusak akan selalu menjadi catatan yang sulit dilupakan.

Mungkin sudah saatnya kita memandang ruas Panawuan–Sangkanhurip bukan sekadar jalan desa. Melainkan koridor wisata, nadi ekonomi, dan wajah pariwisata Kuningan. Karena wajah yang baik tidak hanya dibangun dengan promosi. Ia juga dibangun dengan perhatian. Dan perhatian itu, terkadang, sesederhana menutup lubang-lubang yang selama ini dibiarkan berbicara lebih keras daripada janji-janji pembangunan.

“Jika pariwisata adalah masa depan Kuningan, maka jalan menuju ke sana seharusnya menjadi prioritas untuk merajut kenangan.”

 

Ageng Sutrisno

Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.

Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.

Idul Fitri 1447 H