Mengapa Literasi Kita Rendah Padahal Informasi Berlimpah?
“DI ZAMAN ketika semua orang bisa berbicara, justru semakin sedikit yang benar-benar mendengarkan.”
Barangkali, belum pernah dalam sejarah manusia, kita hidup sedekat ini dengan pengetahuan. Perpustakaan dunia kini berada di dalam saku. Dalam hitungan detik, kita dapat mengetahui apa yang terjadi di belahan bumi lain, mempelajari teori para ilmuwan, membaca pemikiran filsuf, atau menyaksikan kuliah dari universitas terbaik dunia. Semua tersedia dan semua dapat diakses.
Namun, ada satu ironi yang diam-diam sedang tumbuh: semakin mudah memperoleh informasi, semakin sulit menemukan pemahaman. Kita mengetahui banyak hal, tetapi memahami sangat sedikit. Kita membaca semakin banyak, tetapi merenung semakin jarang. Kita pun semakin cepat menyampaikan pendapat, tetapi semakin lambat mendengarkan pandangan yang berbeda.
Barangkali, yang sedang kita alami bukanlah ledakan pengetahuan, melainkan ledakan informasi dan keduanya adalah hal yang berbeda. Informasi hanyalah bahan mentah, sedangkan pengetahuan adalah hasil dari proses berpikir. Sementara itu, kebijaksanaan baru akan lahir ketika pengetahuan bertemu dengan pengalaman dan kerendahan hati. Sayangnya, kita sering kali berhenti pada tahap pertama.
Hari ini, kita terbiasa membaca judul tanpa membuka isi, membagikan berita tanpa memeriksa sumber, serta mengomentari persoalan tanpa memahami konteks. Kita merasa telah mengetahui sesuatu hanya karena sebuah video berdurasi satu menit melintas di layar ponsel. Padahal, memahami tidak pernah bisa dipercepat. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesediaan untuk membaca hingga selesai, mendengar hingga tuntas, lalu berpikir sebelum menyimpulkan.
Namun, dunia digital justru membiasakan kita melakukan kebalikannya. Semua harus cepat, singkat, dan segera. Akibatnya, kita semakin terlatih bereaksi, tetapi semakin jarang berefleksi.
Persoalan ini terasa semakin dekat ketika kita melihat keadaan di sekitar kita. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Kabupaten Kuningan pada tahun 2025 baru mencapai sekitar 7,91 tahun. Artinya, secara rata-rata, penduduk berusia 25 tahun ke atas menempuh pendidikan formal hingga sekitar kelas delapan SMP. Angka ini masih berada di bawah rata-rata Jawa Barat maupun nasional.
Tentu saja, angka tersebut bukan ukuran kecerdasan masyarakat. Banyak orang berhasil tanpa pendidikan tinggi, banyak pula lulusan perguruan tinggi yang gagal memahami realitas kehidupan. Namun, data itu memberi pesan yang patut kita renungkan: pendidikan formal yang relatif pendek menuntut kita membangun budaya belajar yang jauh lebih panjang. Karena sesungguhnya, sekolah boleh selesai, tetapi belajar tidak boleh berhenti.
Di era digital seperti hari ini, tantangan terbesar bukan lagi mencari informasi, melainkan memilih informasi yang benar. Membedakan fakta dan opini, menyaring hoaks, memahami konteks, serta memiliki keberanian untuk berkata, “Saya belum tahu, maka saya perlu belajar lebih banyak.”
Kita sering bangga karena internet kini menjangkau hampir seluruh desa. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah internet membuat kita lebih gemar membaca atau justru lebih cepat berdebat? Kita bangga anak-anak telah mahir menggunakan gawai sejak usia dini, tetapi apakah mereka sedang membangun rasa ingin tahu atau hanya membiasakan jari mereka terus menggulir layar? Kita bangga setiap orang kini dapat menjadi pembuat konten, tetapi siapa yang sedang menjadi pembaca yang tekun?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, namun di sanalah masa depan sebuah masyarakat sedang dipertaruhkan.
Selama ini kita sering mengukur kemajuan dari apa yang tampak: jalan yang lebih mulus, gedung yang lebih tinggi, atau taman yang lebih indah. Semua itu penting. Namun, ada pembangunan yang hasilnya tidak langsung terlihat, yaitu pembangunan cara berpikir manusia. Jalan yang baik hanya mempercepat perjalanan, tetapi hanya literasi yang mampu menentukan ke mana sebuah masyarakat akan melangkah.
Daerah yang masyarakatnya gemar belajar akan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan, lebih kritis terhadap informasi, lebih terbuka terhadap gagasan baru, serta lebih sulit dipecah oleh fitnah dan disinformasi. Sebaliknya, masyarakat yang miskin literasi akan mudah dipengaruhi oleh isu sesaat, mudah terprovokasi, dan sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi, bukan pemahaman.
Mungkin karena itu, investasi terbesar sebuah daerah sesungguhnya bukan pada beton, melainkan pada manusia. Membangun perpustakaan mungkin tidak seramai membangun alun-alun. Menghidupkan taman baca mungkin tidak semeriah sebuah festival. Mendorong orang tua membacakan buku kepada anak sebelum tidur mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan. Namun, justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah kualitas sebuah peradaban dibentuk.
Literasi bukan hanya urusan guru atau sekolah. Ia adalah urusan orang tua, pemerintah, media, komunitas, dan setiap warga yang percaya bahwa masa depan dibangun oleh pikiran yang terus bertumbuh.
Barangkali, yang harus kita wariskan kepada anak-anak Kuningan bukan hanya jalan yang mulus, gedung yang megah, atau kota yang semakin cantik, tetapi juga kepala yang terbiasa berpikir jernih, hati yang mencintai kebenaran, dan keberanian untuk terus belajar, bahkan setelah sekolah selesai.
Sebab, sebuah daerah tidak akan benar-benar maju hanya karena pembangunan fisiknya. Ia akan maju ketika masyarakatnya tidak pernah berhenti membaca, berpikir, dan belajar. Karena pada akhirnya, informasi hanya dapat memenuhi kepala, tetapi hanya literasi yang mampu membentuk peradaban.
Ageng Sutrisno
Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.
Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.