Kuningan Timur: Kemiskinan & Air Mata di Tanah yang Kaya
ADA wilayah yang begitu dekat dengan denyut ekonomi, tetapi justru jauh dari kesejahteraan.
Kuningan Timur adalah salah satunya. Jika kita melihatnya dari peta ekonomi, kawasan ini sesungguhnya memiliki hampir semua alasan untuk tumbuh.
Ia memiliki jalan yang menghubungkan arus perdagangan Kuningan dengan Cirebon dan Jawa Tengah. Ciawigebang tidak benar-benar tidur; pasarnya hidup bahkan ketika malam telah lama turun. Barang datang dan pergi, manusia berpapasan, roda kendaraan berputar, dan uang berpindah tangan.
Di Cidahu dan Kalimanggis, bumi menyimpan galian C yang bernilai. Tanah yang selama ribuan tahun diam di bawah kaki manusia diangkat, diangkut, dijual, lalu menjadi bagian dari bangunan-bangunan megah di tempat lain. Kini, kawasan Cidahu dan sekitarnya bahkan mulai diproyeksikan sebagai sentra manufaktur berskala besar.
Jika pembangunan adalah sebuah kalimat, Kuningan Timur seharusnya sudah disusun oleh banyak kata kunci: Perdagangan. Sumber daya alam. Industri. Investasi.
Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil ketika kita membaca kalimat itu sampai selesai. Di antara kata-kata yang terdengar menjanjikan tersebut, masih ada satu kata mendasar yang belum selesai kita jawab: sejahtera.
Data Bappeda Kuningan tahun 2025 memberikan ironi yang sulit dipandang sebelah mata. Dari lima kecamatan yang masuk kategori miskin ekstrem di Kabupaten Kuningan, empat di antaranya berada di Kuningan Timur. Bahkan dari 25 desa yang tergolong miskin ekstrem, 20 desa mengepung kawasan ini.
- Cidahu: Datar, Cidahu, Jatimulya, Kertawinangun, Nanggela.
- Kalimanggis: Kalimanggis Wetan, Kalimanggis Kulon, Kertawana, Cipancur, Wanasaraya.
- Cibingbin: Ciangir, Cibingbin, Sukaharja, Cisaat, Cipondok.
- Cimahi: Gunungsari, Cimulya, Margamukti, Cimahi, Mekarjaya.
Nama-nama yang selama ini mungkin kita sebut sambil lalu, mendadak bergetar ketika dibaca bersandingan dengan statistik kemiskinan.
Di balik deretan nama desa itu ada ribuan keluarga, dan di balik ribuan keluarga itu ada kehidupan yang tidak pernah masuk ke dalam lembar foto peresmian pembangunan. Ada dapur yang harus tetap mengepul, ada biaya sekolah yang harus dicari, ada orang tua yang menunda kebutuhan pribadinya agar sang anak tetap bisa belajar, dan ada anak-anak muda yang mulai berhitung: lebih baik bertahan di sini, atau pergi?
Kemiskinan memang sering kali tidak terlihat dari balik kaca mobil di jalan raya. Ia tinggal di gang-gang sempit, di rumah-rumah yang lampunya menyala hemat, serta di meja makan yang percakapannya lebih banyak menyoal harga bahan pokok daripada cita-cita masa depan.
Yang membuat ironi ini terasa kian dalam adalah kenyataan bahwa Kuningan Timur bukan wilayah yang miskin potensi. Justru sebaliknya, ia memiliki terlalu banyak alasan untuk tumbuh.
Lantas mengapa masyarakatnya belum ikut tumbuh?
Mungkin karena selama ini kita terlalu gampang menyamakan kekayaan wilayah dengan kesejahteraan masyarakat. Padahal keduanya bukan saudara kembar.
- Sebuah daerah bisa kaya sumber daya alam, tetapi miskin nilai tambah.
- Sebuah wilayah bisa ramai perdagangan, tetapi warga lokalnya tetap rentan.
- Investasi bisa datang melimpah, tetapi tidak otomatis membuat warga sekitar naik kelas.
- Tanah bisa menghasilkan banyak modal, tetapi uang itu belum tentu menetap di tanah tempat ia berasal.
Di situlah kita perlu bertanya secara lebih jujur: Apakah selama ini Kuningan Timur sedang tumbuh, atau sekadar sedang digunakan untuk tumbuh?
Pertanyaan ini mungkin terdengar pahit. Namun, pembangunan memang sesekali membutuhkan kepahitan agar kita tidak terlalu cepat merasa berhasil. Kita sering menyebut investasi sebagai kabar baik. Memang benar, ia bisa menjadi kabar baik. Tetapi investasi bukanlah tujuan akhir; ia hanyalah alat. Yang harus diukur bukan sekadar berapa nominal modal yang masuk, melainkan berapa banyak kualitas kehidupan yang membaik setelah modal itu datang.
- Berapa anak muda lokal yang memperoleh pekerjaan layak?
- Berapa UMKM sekitar yang masuk ke dalam rantai pasok?
- Berapa petani yang memperoleh nilai tambah?
- Berapa desa yang ekonominya benar-benar bergerak?
- Berapa keluarga yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan?
Dan yang paling sederhana: apakah orang-orang yang tinggal di sekitar pusat pertumbuhan itu ikut tumbuh?
Akan terasa ganjil jika truk-truk mengangkut kekayaan keluar dari sebuah desa, sementara keluarga di desa tersebut masih kesulitan membeli beras. Akan terasa ganjil jika pabrik berdiri megah, sementara anak-anak lokal hanya bisa menatap pagar tingginya. Akan terasa ganjil pula jika pasar berdenyut 24 jam, tetapi rumah-rumah di belakangnya masih berjuang keras hanya untuk bertahan esok hari.
Saya menulis ini bukan sebagai pengamat yang datang dari luar. Saya adalah anak yang lahir dan tumbuh di tanah Kuningan Timur.
Saya besar bersama jalan-jalannya, pasar-pasarnya, bukit-bukitnya, sawah-sawahnya, dan orang-orangnya. Saya mengenal wilayah ini bukan dari peta atau dokumen perencanaan, melainkan dari ingatan dari deru kendaraan yang melintas, dari raut wajah yang saya temui, dari kampung yang perlahan berubah, dari bau tanah yang tersiram gerimis, serta dari kawan-kawan masa kecil yang kini dewasa dan harus merantau demi menyambung hidup.
Maka ketika membaca angka-angka statistik itu, saya tidak mampu melihatnya sekadar sebagai barisan data dingin. Saya melihat kampung halaman. Saya melihat wajah-wajah yang saya kenal.
Dan, jujur saja, saya menangis.
Bukan karena Kuningan Timur tidak memiliki apa-apa, melainkan karena ia memiliki begitu banyak. Saya menangis melihat tanah yang kaya ini masih menyimpan ketimpangan yang begitu dalam, di mana warganya belum turut menikmati hasil buminya sendiri.
Namun, air mata ini hadir bukan karena kehilangan harapan. Justru karena rasa cinta yang terlalu besar untuk sekadar menerima keadaan ini sebagai sesuatu yang wajar. Cinta kepada tanah kelahiran tidak selalu berwujud upacara seremonial; kadang ia menjelma menjadi kegelisahan, pertanyaan yang tidak nyaman, dan keberanian untuk berkata: ada yang tidak beres.
Kita tidak boleh membiarkan Kuningan Timur hanya dijadikan koridor lintasan perdagangan, lumbung pengerukan material, atau sekadar kawasan berdiri industri. Kita membutuhkan pembangunan yang meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada beton: kesempatan.
Kesempatan untuk bekerja, belajar, berwirausaha, dan naik kelas. Kesempatan bagi anak-anak Kuningan Timur untuk menata masa depan tanpa harus selalu mengemas koper dan meninggalkan rumahnya. Sebab, pembangunan yang berhasil tidak hanya membuat suatu daerah menjadi ramai, melainkan membuat manusia di dalamnya menjadi berdaya dan bermartabat.
Mungkin suatu hari nanti Ciawigebang tetap hidup sepanjang malam, truk-truk galian tetap melintas, pabrik-pabrik berdiri, dan uang terus berputar. Namun saya berharap, ketika kita menoleh ke belakang pada hari itu, angka kemiskinan ekstrem tidak lagi menjadi bagian dari cerita Kuningan Timur.
Saya ingin melihat kekayaan bumi menjadi kekayaan masyarakat, investasi menjadi kesempatan nyata, dan perdagangan berbuah kesejahteraan yang merata. Pada akhirnya, tanah tidak pernah meminta untuk dipuji kaya. Tanah hanya ingin orang-orang yang hidup di atasnya tidak merasa miskin.
Dan kepada tanah tempat saya dilahirkan, izinkan saya berbisik dengan segala kerendahan hati:
Ibu Pertiwi, maaf jika selama ini kami terlalu sibuk menghitung apa yang bisa diambil darimu, hingga lupa memastikan berapa banyak anakmu yang belum menikmati hasilnya.
Aku tidak ingin Kuningan Timur hanya menjadi tanah yang kaya. Aku ingin ia menjadi rumah yang adil.
Sebab mencintai tanah kelahiran bukan berarti selalu menganggapnya baik-baik saja. Kadang-kadang, mencintai berarti berani menangis ketika melihatnya terluka.
Dan hari ini, aku sedang menangis.
Ageng Sutrisno
Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.
Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.