INILAHKUNINGAN– Kabupaten Kuningan akan memperingati hari jadinya yang ke-528 pada 1 September 2026. Usia yang sangat panjang tersebut bukan sekadar angka yang menandai perjalanan administratif sebuah daerah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masyarakat Kuningan memiliki sejarah, pengalaman, karakter, dan perjalanan peradaban yang panjang dalam membentuk jati dirinya.

Refleksi tersebut disampaikan Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Barat, Alan Suwgiri, dalam menyambut Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan.

Menurut Alan, usia 528 tahun seharusnya membuat masyarakat Kuningan semakin menyadari bahwa mereka bukanlah masyarakat yang hadir kemarin sore. Kuningan memiliki sejarah panjang yang menunjukkan bagaimana masyarakatnya tumbuh, bertahan, berjuang, beradaptasi, dan membangun kehidupan dari generasi ke generasi.

“528 tahun itu bukan usia yang pendek. Ini adalah perjalanan sejarah yang sangat panjang. Artinya, orang Kuningan bukan bangsa kemarin sore. Kita memiliki akar sejarah yang dalam, memiliki pengalaman panjang, dan memiliki karakter yang dibentuk oleh perjalanan zaman,” ujar Alan.

Bagi Alan, sejarah Kuningan bukan sekadar kumpulan tanggal, nama tokoh, atau peninggalan masa lalu. Sejarah seharusnya menjadi sumber kesadaran tentang siapa orang Kuningan, bagaimana karakternya, dan nilai-nilai apa yang diwariskan oleh para pendahulu kepada generasi hari ini.

Salah satu karakter yang menurut Alan sangat melekat pada masyarakat Kuningan adalah semangat perjuangan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai keadaan.

Sejarah mencatat Kuningan memiliki posisi penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Salah satu momentum bersejarah yang sangat kuat adalah Perundingan Linggarjati, yang menjadi bagian penting dari perjalanan diplomasi Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Linggarjati bukan sekadar sebuah tempat di Kuningan. Ia adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Di tanah Kuningan pernah berlangsung sebuah peristiwa yang memiliki arti penting bagi perjalanan Republik Indonesia. Ini menunjukkan bahwa Kuningan memiliki posisi dalam sejarah besar bangsa,” kata Alan.

Menurutnya, bahkan nama Kuningan kemudian hidup jauh melampaui batas geografis daerahnya sendiri. Di Jakarta terdapat kawasan bernama Kuningan yang hingga kini menjadi salah satu kawasan penting di ibu kota.

Bagi Alan, hal tersebut menarik untuk direnungkan. Nama Kuningan tidak hanya melekat pada sebuah wilayah administratif di Jawa Barat, tetapi juga menjadi bagian dari lanskap kehidupan kota besar Indonesia.

Bangsa Perantau yang Luwes Bergaul

Karakter lain yang menurut Alan perlu kembali disadari masyarakat Kuningan adalah budaya merantau.

Orang Kuningan dikenal memiliki tradisi merantau yang kuat. Mereka pergi ke berbagai daerah untuk bekerja, berdagang, menuntut ilmu, membangun usaha, maupun mencari pengalaman hidup.

Dalam konteks sejarah sosial masyarakat Jakarta, bahkan pernah dikenal istilah populer “Babi Kuning”, yang merupakan akronim dari Batak, Bima, dan Kuningan, untuk menggambarkan kelompok masyarakat yang banyak berkiprah dalam berbagai lapisan birokrasi dan kehidupan sosial di Jakarta.

“Terlepas dari istilah dan konteks zamannya, fenomena itu menunjukkan satu hal yang menarik: orang Kuningan memiliki kemampuan untuk merantau dan beradaptasi. Mereka bisa datang ke tempat baru, bergaul dengan berbagai macam manusia, bekerja, membangun jaringan, dan bertahan hidup,” ujar Alan.

Menurut Alan, kemampuan merantau bukan semata-mata persoalan mencari nafkah. Merantau juga merupakan proses pendewasaan jiwa.

Orang yang terbiasa merantau akan bertemu dengan berbagai karakter manusia, budaya, kebiasaan, dan cara berpikir. Dari sanalah seseorang belajar menjadi lebih terbuka, luwes, mandiri, dan mampu menempatkan diri.

“Jiwa perantau mengajarkan kita untuk tidak menjadi manusia yang kaku. Kita belajar menghargai perbedaan, belajar berkomunikasi, belajar bekerja sama, dan belajar menghadapi kehidupan. Inilah salah satu kekayaan karakter orang Kuningan,” katanya.

Karena itu, menurut Alan, masyarakat Kuningan memiliki modal sosial yang sangat besar. Mereka memiliki kemampuan untuk bergaul dan beradaptasi, baik ketika berada di tanah kelahirannya maupun ketika berada di luar daerah.

Kekayaan Kuningan Bukan Hanya Alam, tetapi Manusianya

Alan menilai Kuningan sesungguhnya dianugerahi kekayaan yang luar biasa. Bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusia.

Tanah yang subur, sumber daya air yang melimpah, udara dan lingkungan alam yang indah, serta sinar matahari merupakan modal alam yang sangat penting. Kuningan juga memiliki kekayaan budaya, sejarah, tradisi, dan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berkembang di berbagai tempat.

“Kuningan itu kaya. Kita memiliki tanah, air, matahari, alam yang indah, budaya, sejarah, dan yang paling penting adalah manusia Kuningan itu sendiri. SDM dan SDA kita adalah dua kekuatan yang harus berjalan bersama,” tutur Alan.

Namun, menurutnya, kekayaan sumber daya alam tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak diikuti dengan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

Karena itu, Alan mendorong agar pembangunan Kuningan ke depan semakin memberikan perhatian besar kepada peningkatan kualitas manusia.

Menurutnya, investasi paling penting bagi masa depan Kuningan bukan hanya membangun gedung, jalan, atau infrastruktur fisik, tetapi juga membangun manusia yang memiliki ilmu, keterampilan, karakter, kreativitas, dan kemampuan untuk menghadapi perubahan zaman.

“Kalau kita ingin Kuningan melesat, yang harus kita bangun pertama-tama adalah manusianya. Infrastruktur penting, tetapi manusia yang berkualitaslah yang akan menghidupkan infrastruktur tersebut dan mengubah potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi,” ujarnya.

Membangun Kuningan dari Dalam, Membawa Nama Kuningan ke Luar

Alan berharap pembangunan sumber daya manusia Kuningan diarahkan agar menghasilkan generasi yang memiliki dua kemampuan sekaligus.

Pertama, mampu membangun daerahnya sendiri.

Kedua, mampu membawa nama baik Kuningan ketika berada di luar daerah.

“Orang Kuningan harus punya kemampuan membangun Kuningan ketika dia berada di Kuningan. Tetapi ketika dia pergi ke Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan ke luar negeri, dia harus menjadi manusia yang disegani sekaligus dicintai karena kemampuan, ilmu, karakter, dan kontribusinya,” kata Alan.

Menurutnya, tidak ada yang salah dengan menjadi perantau. Justru tradisi merantau merupakan salah satu kekuatan masyarakat Kuningan yang harus dirawat.

Yang perlu dibangun adalah hubungan yang kuat antara orang Kuningan dengan tanah kelahirannya.

Orang Kuningan yang berhasil di luar daerah diharapkan tidak melupakan daerah asalnya. Sebaliknya, keberhasilan di luar daerah dapat menjadi energi baru untuk membangun Kuningan melalui ilmu, jaringan, pengalaman, investasi, gagasan, maupun berbagai bentuk kontribusi lainnya.

“Jangan sampai merantau membuat kita tercerabut dari akar. Justru semakin jauh kita pergi, semakin kuat kita harus tahu dari mana kita berasal,” ungkap Alan.

Menemukan Kembali “Jiwa Orang Kuningan”

Alan berpandangan bahwa salah satu pekerjaan penting dalam pembangunan Kuningan adalah membangun kembali kesadaran masyarakat terhadap jiwa orang Kuningan.

Menurutnya, generasi muda perlu mengetahui sejarah daerahnya, mengenal tokoh-tokohnya, memahami nilai-nilai budaya, dan menyadari bahwa mereka adalah bagian dari sebuah perjalanan panjang.

Kesadaran tersebut penting bukan untuk membangun kebanggaan yang berlebihan, tetapi untuk menciptakan rasa memiliki.

Orang yang merasa memiliki daerahnya akan memiliki alasan untuk ikut memajukannya.

“Kita perlu menyadarkan kembali generasi muda: siapa sebenarnya orang Kuningan itu? Apa sejarahnya? Apa karakternya? Apa nilai yang diwariskan para pendahulu? Kalau kita tahu akar kita, kita akan punya kebanggaan. Kalau kita punya kebanggaan, akan tumbuh rasa memiliki. Dan kalau sudah punya rasa memiliki, kita akan punya semangat untuk membangun,” ujar Alan.

Menurutnya, pembangunan fisik tanpa pembangunan identitas dapat membuat sebuah daerah kehilangan arah. Sebaliknya, identitas yang kuat akan menjadi energi sosial untuk bergerak menghadapi masa depan.

Karena itu, sejarah dan kebudayaan tidak boleh hanya menjadi materi seremonial ketika Hari Jadi Kuningan tiba. Nilai-nilai tersebut harus menjadi bagian dari pendidikan, kehidupan masyarakat, dan cara generasi muda melihat masa depannya.

Kuningan Harus Melesat Tanpa Kehilangan Akar

Alan menilai Kuningan saat ini berada pada persimpangan penting. Dunia berubah sangat cepat. Teknologi berkembang, ekonomi bergerak semakin digital, mobilitas manusia semakin tinggi, dan persaingan antarwilayah semakin terbuka.

Dalam kondisi seperti itu, Kuningan harus mampu bergerak cepat.

Tetapi kecepatan tersebut, menurut Alan, tidak boleh membuat masyarakat kehilangan identitasnya.

“Kuningan harus melesat, tetapi jangan kehilangan akar. Kita harus modern tanpa kehilangan jati diri. Kita harus terbuka terhadap dunia, tetapi tetap tahu siapa diri kita. Kita harus mampu bersaing di luar, tetapi tetap memiliki kepedulian untuk membangun tanah kelahiran,” katanya.

Baginya, akar bukan sesuatu yang menghambat pertumbuhan. Justru akar memberikan kekuatan agar pohon dapat tumbuh tinggi.

Demikian pula dengan manusia. Orang yang memiliki akar identitas yang kuat akan lebih percaya diri ketika berhadapan dengan dunia luar.

“Kalau akar kita kuat, kita tidak takut pergi ke mana-mana. Kita bisa merantau sejauh mungkin karena kita tahu siapa diri kita. Dan ketika berhasil, kita tahu ke mana kita harus pulang dan untuk siapa keberhasilan itu bisa kita manfaatkan,” tuturnya.

528 Tahun sebagai Momentum Menatap Masa Depan

Memasuki usia 528 tahun, Alan berharap Kuningan tidak hanya melihat masa lalu dengan kebanggaan, tetapi juga menjadikannya energi untuk membangun masa depan.

Sejarah panjang Kuningan harus menjadi modal psikologis bahwa masyarakat daerah ini memiliki kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang.

Semangat perjuangan yang pernah ditunjukkan para pendahulu, kemampuan merantau, keluwesan dalam bergaul, kekayaan alam, serta potensi sumber daya manusia harus dipadukan menjadi kekuatan pembangunan.

Menurut Alan, Kuningan tidak perlu kehilangan jati diri untuk menjadi maju.

Sebaliknya, kemajuan harus dibangun dari jati diri yang kuat.

“528 tahun mengajarkan kepada kita bahwa Kuningan sudah melewati begitu banyak zaman. Kita sudah melalui berbagai perubahan dan tetap ada sampai hari ini. Sekarang tugas kita adalah memastikan Kuningan tetap ada, tetap kuat, dan semakin maju untuk 100, 200, bahkan 500 tahun ke depan,” ujarnya.

Ia berharap Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan menjadi momentum untuk memperkuat kembali rasa bangga sebagai orang Kuningan sekaligus membangun komitmen bersama untuk memajukan daerah.

“Selamat Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan. Mari kita hormati sejarah, kita rawat akar, kita bangun manusianya, kita manfaatkan kekayaan alamnya, dan kita buka seluas-luasnya jalan menuju masa depan. Karena Kuningan memiliki sejarah yang panjang untuk dibanggakan dan masa depan yang panjang untuk diperjuangkan,” pungkas Alan./tat azhari

Alan Suwgiri
Pengurus LPNU Jawa Barat

HUR RI 81