INILAHKUNINGAN– Kelangkaan dokter spesialis bedah mulut di Kabupaten Kuningan mendapat perhatian serius dari rumah sakit daerah. Direktur RSUD Linggajati, dr Hj Eva Maya menyampaikan keprihatinan sekaligus optimisme bahwa kondisi ini bersifat sementara dan tengah diupayakan solusi terbaiknya.

Ia menjelaskan bahwa kekosongan tenaga dokter bedah mulut terjadi setelah dokter yang sebelumnya bertugas harus mengundurkan diri karena alasan pribadi yang tidak dapat dihindari. Kondisi ini tentu berdampak pada layanan kesehatan, khususnya bagi pasien yang membutuhkan penanganan spesialis.

“Pada saat masih ditangani oleh drg. Leidya Valentina Elizabeth, Sp.BM, jumlah pasien sangat tinggi, bahkan sejak pagi hingga petang. Saat ini, kami harus jujur bahwa ada sebagian pasien yang belum bisa tertangani secara optimal dan perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar kota,” papar dia, Kamis (23/4/2026), kepada Inilahkuningan

Meski demikian, RSUD Linggajati tidak tinggal diam. Berbagai langkah strategis telah dilakukan untuk mengatasi kekosongan tersebut. Pihak rumah sakit telah aktif melakukan korespondensi dengan pemerintah provinsi maupun pusat guna mendatangkan dokter spesialis yang dibutuhkan.

Selain itu, koordinasi intensif juga dilakukan dengan organisasi profesi, yakni Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), agar dapat membantu menghadirkan tenaga dokter bedah mulut ke Kuningan. Upaya pencarian juga diperluas melalui jaringan kolega dan rekan sejawat di bidang kesehatan.

“Kami terus berikhtiar melalui berbagai jalur. Harapan kami, dalam tahun ini kebutuhan dokter bedah mulut di Kuningan dapat segera terpenuhi,” harap dr Eva

Pihak RSUD Linggajati juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk tetap bersabar dan memahami situasi yang tengah berlangsung. Komitmen pelayanan terbaik tetap menjadi prioritas, sembari menunggu kehadiran tenaga spesialis yang baru.

Dengan langkah-langkah yang terus diupayakan, harapan akan pulihnya layanan bedah mulut di Kuningan semakin terbuka lebar. Optimisme ini menjadi sinyal positif bahwa krisis yang terjadi bukanlah kondisi permanen, melainkan tantangan yang sedang diatasi secara bertahap dan terukur./Ageng