MALAM semakin larut. Di kaki Ciremai, udara masih terasa dingin dan tenang. Jalanan mulai lengang. Lampu-lampu rumah menyala redup, seolah mengingatkan bahwa Kuningan adalah daerah yang selama ini tumbuh dengan ritme yang berbeda dari kota-kota besar.

Namun dunia hari ini telah berubah.

Jarak geografis tidak lagi menjadi batas utama kemajuan. Kota-kota kecil di berbagai belahan dunia kini dapat terhubung langsung dengan pusat-pusat inovasi, pendidikan, investasi, dan kebudayaan global. Dalam era seperti ini, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi “Seberapa jauh Kuningan dari Jakarta?”, melainkan “Seberapa dekat Kuningan dengan dunia?” Di sinilah konsep Sister City atau Sister Regency menjadi relevan. Bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan strategi pembangunan daerah di era global.

Dari Pemerintahan Lokal ke Diplomasi Global

Dalam ilmu hubungan internasional, fenomena ini dikenal sebagai paradiplomacy—ketika pemerintah daerah membangun hubungan internasional untuk mempercepat pembangunan wilayahnya. Penelitian mengenai praktik sister city di Indonesia menunjukkan bahwa kerja sama semacam ini tidak hanya menyentuh aspek budaya, tetapi juga ekonomi, pendidikan, teknologi, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Artinya, sebuah kabupaten tidak harus menunggu pemerintah pusat untuk membuka semua pintu dunia. Daerah dapat mengetuk pintunya sendiri.

Belajar dari Bandung

Salah satu contoh paling berhasil di Indonesia adalah kerja sama antara Bandung dan Braunschweig yang telah berlangsung sejak tahun 1960. Kerja sama tersebut berkembang dari pertukaran pendidikan menjadi kolaborasi yang mencakup budaya, teknologi, investasi, hingga pengembangan kapasitas pemerintahan. Berbagai kajian menilai hubungan ini memberikan dampak positif bagi kedua kota dan menjadi salah satu model sister city paling berkelanjutan di Indonesia.  Bandung tidak menjadi kota global karena ukurannya. Bandung menjadi kota global karena keberaniannya membangun jaringan global.

Kuningan Memiliki Modal yang Dicari Dunia

Sering kali kita melihat Kuningan dari apa yang belum dimiliki.

Padahal dunia justru tertarik pada apa yang sudah kita miliki.

Kuningan memiliki:

  • Kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati di sekitar Mount Ciremai National Park
  • Warisan budaya agraris seperti Seren Taun
  • Potensi pertanian dan hortikultura pegunungan
  • Destinasi wisata alam yang terus berkembang
  • Bonus demografi generasi muda yang produktif

Banyak kota di Jepang, Korea Selatan, Jerman, hingga Belanda justru sedang mencari mitra yang memiliki kekuatan pada sektor-sektor tersebut.

Dalam bahasa yang sederhana, Kuningan sebenarnya memiliki “komoditas diplomasi” yang bernilai.

Mengapa Harus Sekarang?

Karena persaingan antar daerah tidak lagi hanya terjadi di tingkat nasional. Hari ini, sebuah kota di Vietnam bisa menarik investor yang seharusnya datang ke Indonesia. Sebuah kota kecil di Korea Selatan bisa mengirim ratusan mahasiswanya ke luar negeri melalui program kerja sama internasional.

Sebuah daerah di Jepang bisa menjual produk lokalnya ke pasar dunia karena memiliki jaringan global yang kuat. Yang diperebutkan bukan hanya investasi. Tetapi juga pengetahuan, teknologi, talenta, dan perhatian dunia. Sementara itu, daerah yang tidak membangun jejaring global berisiko menjadi penonton dalam kompetisi yang semakin terbuka.

Dari Kota Kembar Menuju Masa Depan Bersama

Bayangkan jika suatu hari Kuningan memiliki kemitraan dengan sebuah kota di Jepang yang unggul dalam pertanian modern.

  • Petani Kuningan belajar teknologi budidaya terbaru.
  • Pelajar Kuningan memperoleh program pertukaran pendidikan.
  • Produk UMKM Kuningan masuk ke pasar internasional.
  • Festival budaya Seren Taun dipromosikan bersama dalam kalender budaya dunia.
  • Wisatawan asing datang bukan karena kebetulan, tetapi karena adanya jaringan yang sengaja dibangun.

Itulah esensi sebenarnya dari sister city.

Bukan tentang menandatangani nota kesepahaman.

Bukan tentang kunjungan seremonial.

Tetapi tentang membuka jalan agar anak-anak Kuningan memiliki panggung yang lebih luas daripada yang pernah dimiliki generasi sebelumnya.

Penutup

Di masa lalu, kemajuan daerah ditentukan oleh letak geografisnya. Hari ini, kemajuan daerah ditentukan oleh kualitas jaringannya. Karena pada akhirnya, tidak ada daerah yang terlalu kecil untuk dikenal dunia. Yang ada hanyalah daerah yang belum memutuskan untuk memperkenalkan dirinya.

Dan mungkin, di tengah dinginnya udara kaki Ciremai, sudah saatnya Kuningan mulai berbicara lebih jauh dari batas-batas wilayahnya sendiri. Bukan untuk meninggalkan identitas lokalnya. Melainkan untuk membawa identitas itu berjalan bersama dunia.**

Ageng Sutrisno

Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.

Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.

Idul Fitri 1447 H