PROGRAM Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) pada dasarnya lahir dari ide yang baik: mendekatkan distribusi ekonomi ke masyarakat bawah. Masalahnya, niat baik saja tidak cukup. Publik hari ini hidup di era media sosial, di mana kesalahan kecil bisa berubah menjadi bahan olokan nasional hanya dalam hitungan jam.

Kalau KDMP ingin bertahan lama, ada beberapa hal mendasar yang wajib dibenahi sejak awal.

  1. Dominasi Produk UMKM, Bukan Sekadar “Toko Ritel Ganti Spanduk”

Saat ini publik melihat KDMP hanya seperti toko ritel biasa yang diberi label baru. Barang yang dijual sama, merek yang dijual sama, bahkan tata tokonya pun sering kali tidak berbeda jauh dari minimarket umum.

Akibatnya, KDMP kehilangan unique selling point.

Kalau hanya menjual produk yang sama dengan toko modern lain, publik tentu akan bertanya:

“Lalu bedanya apa?”

Bedanya jangan hanya soal sumber modal.

Toko ritel biasa disponsori uang pribadi, sedangkan KDMP disponsori negara.

Karena itu, KDMP seharusnya menjadi panggung utama bagi produk UMKM lokal. Produk desa, pangan olahan warga, kerajinan lokal, hingga hasil pertanian setempat harus menjadi identitas utama. Jika tidak, KDMP hanya akan dianggap sebagai proyek “copy-paste minimarket downgrade” versi pemerintah.

  1. Harga Harus Benar-Benar Murah, Bukan Sekadar Gimmick Seremonial

Saya cukup terkejut ketika melihat ada KDMP yang menjual gas melon 3 kg seharga Rp16.000.

Sebagai orang yang pernah lebih dari dua tahun bekerja di sektor migas hilir, saya tahu betapa sulitnya menjaga harga gas melon tetap berada di angka HET di lapangan. Rantai distribusi, permainan pengecer, hingga ongkos logistik membuat harga riil sering jauh di atas ketentuan resmi.

Kalau KDMP benar-benar mampu menjaga harga murah secara konsisten, itu pencapaian besar.

Namun kalau harga murah itu hanya dipasang saat kunjungan pejabat atau demi laporan manis ke pusat, maka bersiaplah: netizen akan menghajar habis-habisan. Publik sekarang sangat sensitif terhadap pencitraan yang tidak sesuai realita.

Kepercayaan publik hari ini dibangun bukan lewat baliho, tetapi lewat pengalaman nyata masyarakat sehari-hari.

  1. Fasilitas Minimal Harus Menyaingi Ritel Modern

Ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret tidak berkembang besar hanya karena jumlah cabang. Mereka menang karena memahami kenyamanan pelanggan.

Mulai dari:

  • Lokasi strategis bukan di sawah atau kebun yang jauh
  • toko yang bersih dan terang,
  • rak yang rapi,
  • barang lengkap,
  • promo yang rutin,
  • layanan PPOB (Payment Point Online Bank),
  • parkiran gratis,
  • kursi tunggu,
  • hingga konsep kopi siap minum.

Mereka terus berinovasi untuk membuat orang betah datang.

Pertanyaannya:
apakah KDMP siap menjadikan standar itu sebagai standar minimum?

Kalau jawabannya tidak, maka masyarakat akan tetap memilih ritel modern meskipun KDMP membawa jargon kerakyatan.

Karena pada akhirnya, konsumen memilih tempat yang nyaman, bukan tempat yang paling banyak pidatonya apalagi intervensinya.

  1. Terapkan Planogram, Jangan Menata Barang Asal Jadi

Dalam dunia ritel, planogram adalah ilmu dasar.

Planogram merupakan skema visual penataan produk agar rak terlihat rapi, efisien, menarik, dan mudah dijangkau pelanggan. Penempatan barang di toko bukan dilakukan berdasarkan “muat di mana”, tetapi berdasarkan perilaku konsumen, beban rak, estetika visual, hingga strategi penjualan.

Sayangnya, saya masih melihat beberapa KDMP menata produk secara asal.

Contoh sederhana: air mineral ukuran besar ditaruh di rak bagian atas. Selain berbahaya karena berat, itu juga tidak ergonomis bagi pelanggan maupun pegawai toko.

Masalah seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi di mata publik justru sangat mudah viral. Netizen Indonesia sangat jeli membaca detail-detail yang menunjukkan apakah sebuah program dikelola profesional atau sekadar formalitas proyek.

Kalau tata rak saja sudah terlihat amburadul, publik akan langsung meragukan manajemen di baliknya.

  1. Jadikan Unit Simpan Pinjam sebagai Senjata Rahasia

Salah satu alasan mengapa pinjaman online (pinjol) tumbuh sangat agresif adalah karena kebutuhan masyarakat terhadap akses uang cepat memang sangat tinggi.

Data OJK menunjukkan outstanding utang pinjol masyarakat Indonesia telah mencapai Rp100,69 triliun pada Februari 2026.

Itu bukan sekadar angka. Itu tanda bahwa ada kebutuhan ekonomi rakyat yang belum mampu dijawab sistem formal secara sehat.

Di sinilah sebenarnya KDMP punya peluang besar.

Kalau koperasi mampu menghadirkan layanan simpan pinjam yang:

  • cepat,
  • mudah,
  • bunga masuk akal,
  • dan manusiawi,

maka KDMP bisa menjadi alternatif nyata bagi masyarakat yang selama ini terjebak pinjol.

Tetapi tentu syaratnya satu: pengelolaan harus profesional. Karena sejarah juga menunjukkan bahwa koperasi yang buruk tata kelolanya hanya akan berubah menjadi tempat kredit macet berjamaah.

Masih banyak strategi lain yang bisa dibahas. Salah satunya head to head KDMP vs Warung Madura. Namun minimal lima hal ini wajib dibereskan terlebih dahulu kalau KDMP ingin:

  • tidak menjadi bahan olokan netizen,
  • bertahan dalam jangka panjang,
  • dan menjaga marwah program yang sudah telanjur dibawa sebagai agenda besar negara.

Karena pada akhirnya, program sebesar apa pun tidak akan dihancurkan oleh kritik oposisi.
Ia biasanya runtuh oleh pelaksanaan yang asal-asalan di lapangan.

Ageng Sutrisno

Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.

Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.

Idul Fitri 1447 H