Malam itu, ribuan cahaya menari di Cigugur, sebuah daerah yang syarat akan budaya di Kuningan. Bukan cahaya yang lahir dari layar ponsel, bukan pula sorot lampu panggung yang sengaja dipasang untuk mencuri perhatian. Cahaya itu datang dari sesuatu yang jauh lebih tua: damar.
Satu per satu nyala api hidup di tangan masyarakat. Lalu menjadi puluhan, menjadi ratusan, hingga akhirnya menjadi ribuan. Damar Sewu. Dari kejauhan, saya menyaksikannya seperti melihat sungai cahaya yang mengalir perlahan membelah kegelapan. Tidak tergesa, tidak gaduh, dan tidak membutuhkan suara keras untuk menunjukkan keberadaannya. Namun, justru karena itulah ia terasa begitu agung.
Di tengah zaman yang memuja kecepatan, Damar Sewu mengajarkan sesuatu yang hampir terlupakan: tidak semua hal besar lahir dari gebrakan. Ada hal yang bertahan justru karena dirawat dengan sabar. Di antara ribuan nyala damar itu, saya tiba-tiba menyadari satu hal. Masyarakat Cigugur sebenarnya tidak sedang menyalakan api; mereka sedang menyalakan ingatan.
Sebab, setiap peradaban besar selalu memiliki cara untuk menjaga ingatan kolektifnya tetap hidup. Ada yang menuliskannya dalam kitab, ada yang memahatnya pada batu, dan ada pula yang menyimpannya dalam arsip negara. Masyarakat Cigugur mewariskannya melalui Seren Taun.
Semakin lama saya memperhatikan, semakin saya sadar bahwa Seren Taun bukan sekadar perayaan panen. Ia adalah pelajaran tentang kepemimpinan; tentang bagaimana sebuah nilai bisa bertahan lebih dari satu abad, tentang bagaimana sebuah warisan tetap hidup meski generasi terus berganti, dan tentang bagaimana cahaya tetap menyala ketika orang yang pertama kali menyalakannya telah lama tiada.
Di sinilah saya menemukan sesuatu yang menarik. Keberlangsungan Seren Taun ternyata tidak lahir dari satu tokoh besar saja. Ia lahir dari estafet tiga jenis kepemimpinan yang berbeda.
Rama Panyipta: Mereka yang Menentukan Arah
Semua bermula dari Pangeran Madrais Alibasa Kusuma Wijayaningrat. Beliau dikenal sebagai Rama Panyipta (pencipta). Bukan sekadar pencipta tradisi, melainkan pencipta arah berpikir. Beliau merumuskan nilai, filosofi, dan pandangan hidup yang menjadi fondasi Seren Taun. Dalam bahasa modern, beliau adalah seorang visioner.
Setiap perubahan besar selalu dimulai dari sosok seperti ini—mereka yang mampu menjawab pertanyaan paling penting: “Kita hendak menjadi apa?”
Sayangnya, banyak kepemimpinan hari ini justru berhenti di tahap ini. Banyak yang mampu menciptakan slogan, banyak yang mampu meluncurkan program, dan banyak yang pandai membuat visi. Namun, tidak semua mampu memastikan visi itu tetap hidup setelah pidato selesai.
Rama Pangwedar: Mereka yang Membuat Orang Mengerti
Sebuah gagasan, sehebat apa pun, tidak akan bertahan jika hanya dipahami oleh penciptanya. Karena itu, muncul sosok berikutnya: Pangeran Tedja Buana, sang Rama Pangwedar. Beliau tidak menciptakan ajaran baru, melainkan menjelaskan, menerjemahkan, dan memperjelas makna simbol-simbol serta nilai yang diwariskan oleh pendahulunya agar tetap relevan dengan masyarakat pada zamannya.
Peran ini sering diremehkan, padahal di sinilah banyak kepemimpinan modern gagal. Banyak pemimpin memiliki visi, tetapi sedikit yang mampu mengomunikasikannya. Akibatnya, masyarakat mengenal program tanpa memahami tujuan; mengenal slogan tanpa memahami makna. Ketika makna itu hilang, loyalitas pun berubah menjadi sebatas formalitas.
Rama Panyusun: Mereka yang Menjadikan Nilai Sebagai Budaya
Kemudian hadir Pangeran Djatikusumah sebagai Rama Panyusun. Beliau melakukan pekerjaan yang paling sunyi sekaligus paling sulit: menyusun. Beliau mengubah gagasan menjadi kebiasaan, mengubah filosofi menjadi budaya, serta mengubah keyakinan menjadi praktik kehidupan sehari-hari.
Sejatinya, sebuah nilai tidak bertahan karena sering dibicarakan, melainkan karena dijalankan. Banyak organisasi runtuh bukan karena kekurangan ide. Mereka runtuh karena ide-ide itu tidak pernah menjadi sistem, tidak pernah menjadi budaya, dan tidak pernah menjadi tradisi. Di sinilah letak kehebatan Seren Taun. Ia tidak berhenti sebagai gagasan, melainkan hidup sebagai kebiasaan kolektif.
Mengapa Banyak Pemimpin Hari Ini Gagal Meninggalkan Warisan?
Ketika menyaksikan Damar Sewu malam itu, saya menemukan ironi yang sulit diabaikan. Banyak pemimpin hari ini ingin menjadi Rama Panyipta. Mereka ingin dikenal sebagai pencetus, pembaharu, dan tokoh utama dalam cerita. Namun, sedikit yang mau menjadi Rama Pangwedar yang menjelaskan dengan sabar, dan lebih sedikit lagi yang mau menjadi Rama Panyusun yang bekerja diam-diam membangun sistem.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak bertahan karena banyaknya pencipta gagasan. Peradaban bertahan karena hadirnya orang-orang yang menjaga gagasan itu tetap dipahami dan dijalankan.
Barangkali itulah sebabnya Seren Taun masih hidup hingga hari ini. Karena yang diwariskan bukan hanya ritual, bukan hanya seremoni, dan bukan sekadar simbol budaya. Yang diwariskan adalah arsitektur kepemimpinan: Pangeran Madrais mengajarkan cara menciptakan arah, Pangeran Tedja Buana mengajarkan cara menjelaskan arah, dan Pangeran Djatikusumah mengajarkan cara menjaga arah tetap hidup.
Ketika ribuan damar menyala di Cigugur malam itu, saya merasa sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah tradisi. Saya sedang menyaksikan bagaimana sebuah peradaban menjaga cahayanya. Sementara di banyak tempat lain, kita masih sibuk mencari siapa yang pantas mengklaim sebagai pemilik cahaya itu.
Padahal, sejarah selalu menunjukkan hal yang sama: cahaya tidak bertahan karena siapa yang menyalakannya, melainkan karena ada yang bersedia menjaganya agar tidak padam.

Ageng Sutrisno
Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.
Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.

Idul Fitri 1447 H