ADA yang menarik dari dinamika politik Kuningan belakangan ini. Bukan soal siapa yang paling cepat memasang baliho di persimpangan jalan. Bukan pula soal siapa yang paling rajin mengumandangkan kata “siap maju” jauh sebelum waktunya. Kali ini, hal yang menarik justru berada di balik meja rapat partai. Posisi sekretarisnya.

PKB Kuningan kini memiliki Rasdi, figur dari generasi milenial dan PPP Kuningan mengarah kepada Masoery Gonjes generasi X kelompok usia yang kini menjadi jembatan transisi penting antara senioritas politik dan sensitivitas zaman baru.

Jika ini hanya kebetulan, kita mungkin bisa menganggapnya sebagai dinamika internal yang biasa. Namun, jika dibaca sebagai sebuah gejala sosial-politik, fenomena ini sangat menarik. Sebab dalam politik, perubahan komposisi elite jarang sekali hanya berurusan dengan administrasi organisasi. Ia adalah sinyal perubahan strategi.

Partai politik tidak pernah hidup di ruang hampa. Mereka membaca hasil survei, mengamati tren perbincangan, memantau media sosial, membedah perilaku pemilih, hingga memperhitungkan siapa yang mulai enggan datang ke TPS.

Di tengah kalkulasi itu, ada satu kenyataan yang semakin sulit diabaikan: pemilih muda memegang peranan kunci. Generasi milenial dan Gen Z bukan lagi sekadar penonton di tribun politik; mereka telah merangsek ke tengah lapangan. Mereka adalah pemilih aktif, pengguna media sosial, sekaligus pembentuk opini publik. Dalam beberapa tahun ke depan, kelompok inilah yang paling menentukan arah elektoral.

Partai politik yang masih sepenuhnya mengandalkan cara-cara lama tentu akan menghadapi persoalan serius. Bukan karena para politisi senior tidak kompeten, melainkan karena cara masyarakat berkomunikasi telah berubah secara drastis.

Dulu, partai cukup hadir di lapangan terbuka. Sekarang, partai wajib hadir di layar gawai. Dulu, pesan politik disampaikan melalui mimbar resmi. Sekarang, video berdurasi 30 detik di TikTok atau Instagram Reels bisa jauh lebih berpengaruh daripada pidato berjam-jam. Dulu, kader turun ke jalan membawa bendera. Sekarang, mereka turun membawa kamera dan narasi visual.

Di sinilah letak keunggulan figur-figur yang lebih muda. Mereka memahami bahasa zamannya, mengerti cara membangun keterlibatan (engagement), dan paham betul bahwa politik hari ini bukan sekadar soal siapa yang paling nyaring bicara, melainkan siapa yang paling mampu membuat orang berhenti mengusap layar (scrolling)

Kehadiran sosok muda mulai menolak kesan kaku membuat narasi partai terasa lebih adaptif dan cair di media sosial maupun ruang diskusi komunitas. Oleh karena itu, menempatkan Generasi X dan milenial di posisi strategis sekretaris partai dapat dibaca sebagai langkah regenerasi sekaligus upaya adaptasi elektoral.

Namun, ada catatan kritis yang tidak boleh diabaikan. Jangan sampai penempatan ini hanya menjadi “kosmetik politik.” Wajahnya tampak muda, tetapi cara berpikirnya tetap usang. Akun media sosialnya aktif, tetapi proses pengambilan keputusan politiknya tetap eksklusif. Anak muda dipajang di depan kamera, tetapi tidak diberi ruang di belakang meja keputusan.

Jika itu yang terjadi, yang berlangsung bukanlah regenerasi, melainkan sekadar pembungkusan ulang (rebranding). Pemilih muda hari ini cukup jeli untuk membedakan mana transformasi yang sungguh-sungguh dan mana yang sekadar berganti kemasan.

Tantangan bagi para figur muda yang mulai masuk ke lingkaran inti partai tentu tidak ringan. Mereka tidak boleh hanya puas menjadi “wajah baru”, melainkan harus membuktikan diri sebagai pemikir baru.

Merekalah yang dituntut untuk mampu membaca pergeseran sosial, memahami keresahan nyata generasi muda di daerah, serta menjembatani elite politik dengan kebutuhan masyarakat bawah. Tugas terberatnya adalah mengubah partai dari sekadar mesin elektoral lima tahunan menjadi ruang produksi gagasan.

Sebab, jika hanya mengganti angka usia di struktur kepengurusan, semua organisasi bisa melakukannya. Namun, jika yang diubah adalah pola pikir dan budaya politik, itu cerita yang berbeda.

Kini, menarik untuk mencermati perkembangan peta politik Kuningan ke depan. PKB & PPP telah mengirimkan sinyal. Pertanyaannya kemudian:

Bagaimana dengan partai politik yang lain?

Apakah mereka juga sedang menyiapkan wajah baru?

Apakah ada figur milenial yang diam-diam sedang dipanaskan mesinnya?

Atau jangan-jangan…

mereka masih sibuk mencari anak muda yang penurut dan mau mengikuti pola pikir generasi tua?

Politik memang selalu menyimpan kejutan. Sering kali, hal yang paling krusial bukan sekadar siapa yang hari ini menduduki jabatan sekretaris, melainkan siapa yang sedang disiapkan untuk menjadi pemain utama pada helatan pemilu berikutnya.

Kita tunggu saja. Apakah Kuningan sedang mengalami regenerasi politik yang substansial, atau sekadar berganti gincu sementara cara berpikirnya masih sama? Itulah yang menarik untuk kita saksikan bersama.

Ageng Sutrisno

Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.

Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.

Idul Fitri 1447 H