Ada testimoni yang sekadar pujian.

Ada pula testimoni yang bekerja sebagai cermin.

TULISAN Prof. Didin Didin Nurul Rasyidin, MA, P.hD tentang satu tahun kepemimpinan Dian–Tuti di Kabupaten Kuningan jelas berada pada kategori kedua. Ia tidak lahir dari jarak, melainkan dari kedekatan. Dari relasi personal, pengalaman panjang di ruang publik, dan keberanian untuk tetap jujur di hadapan kekuasaan. Justru karena itu, testimoni ini penting dibaca secara utuh bukan hanya sebagai legitimasi moral, tetapi sebagai pengingat arah.

Prof. Didin membuka kesaksiannya dengan QS An-Nisa ayat 58: tentang amanah dan keadilan. Sebuah pilihan ayat yang tidak ringan. Ayat ini tidak sedang menghibur penguasa, tetapi menempatkan kekuasaan dalam posisi paling rawan: diuji, diawasi, dan kelak dipertanggungjawabkan.

Menariknya, kesaksian ini tidak dimulai dari keyakinan penuh, melainkan dari ambivalensi. Ada optimisme karena latar belakang birokrasi panjang, namun juga keraguan karena sejarah birokrasi kita sendiri yang kerap lamban, prosedural, dan nyaman di dalam kotak. Kejujuran semacam ini justru memperkuat bobot testimoni. Ia tidak datang sebagai pembela, melainkan sebagai pengamat yang bersedia mengubah penilaian jika realitas berbicara lain.

Dan memang, menurut Prof. Didin, realitas itu berbicara.

Dalam satu tahun pertama, kepemimpinan Dian–Tuti ditandai oleh kecenderungan keluar dari kebiasaan lama. Turun langsung ke lapangan. Bergerak cepat hingga bisa jadi terkesan menabrak kelaziman prosedural. Penamaan jalan baru Eyang Kiyai Hasan Maolani, penghentian proses di lereng Ciremai, dan sejumlah keputusan responsif lainnya menunjukkan satu hal: kepemimpinan ini tidak sepenuhnya nyaman dengan cara lama.

Namun di titik ini, penting ditegaskan: keberanian “out of the box” bukan tujuan, melainkan alat. Ia baru bermakna jika tetap berpijak pada keadilan, keberpihakan, dan keberlanjutan. Dan di sinilah testimoni Prof. Didin menjadi penting sekaligus belum selesai. Ia mengakui capaian, merasakan dampak, tetapi tetap menyisakan ruang tuntutan. Empat tahun ke depan adalah medan pembuktian sesungguhnya.

Bagian paling kuat dari tulisan Prof. Didin justru ada pada metafor terakhirnya: kepemimpinan sebagai sungai, bukan samudra. Sebuah gambaran yang halus namun tajam. Kepemimpinan tidak boleh bergemuruh di permukaan tetapi beku di dalam. Ia harus mengalir, menggerakkan, dan memberi kehidupan di sepanjang lintasannya. Ini sekaligus kritik tersirat: sebaik apa pun pemimpin, tanpa birokrasi yang bergerak dan masyarakat yang terlibat, perubahan akan berhenti sebagai niat baik.

Maka testimoni ini, jika dibaca dengan jernih, bukanlah akhir. Ia adalah catatan antara. Antara harapan dan kewaspadaan. Antara apresiasi dan tanggung jawab. Mengingat tantangan ekonomi di depan mata, amanah ini tidak hanya diukur oleh kecepatan melunasi masa lalu, tapi oleh ketangguhan menjaga masa depan. Ia mengingatkan bahwa amanah tidak diukur oleh satu tahun yang terasa cepat, tetapi oleh konsistensi dalam waktu yang panjang.

Dan barangkali, di situlah nilai paling jujur dari kesaksian Prof. Didin:

bahwa kepemimpinan yang baik bukan yang bebas kritik, melainkan yang bersedia terus diuji oleh waktu, oleh rakyat, dan oleh nurani.**

 

Ageng Sutrisno

Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan

Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.

Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.

 

Idul Fitri 1447 H