Prestasi Besar Kuningan yang Lewat Tanpa Tepuk Tangan
INI kabar baik. Tapi sepi
Baru-baru ini Badan Riset dan Inovasi Nasional merilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD). Hasilnya tegas: Kabupaten Kuningan berada di peringkat ke-14 dari 416 kabupaten se-Indonesia. Bukan 50 besar. Bukan 25 besar. 14 besar nasional.
Pertanyaannya sederhana: berapa banyak yang tahu?
IDSD bukan lomba seremoni. Ini ukuran serius. Yang dinilai produktivitas, kualitas institusi, infrastruktur, SDM, pasar, sampai inovasi. Acuannya Global Competitiveness Index, disesuaikan dengan konteks daerah Indonesia. Artinya: ini bukan angka main-main.
Skor Kuningan tahun 2024 adalah 3,82. Tinggi. Dan yang lebih penting: bukan kebetulan satu tahun.
Lampiran Data (Lengkap, Bukan Cuplikan)
Skor IDSD Kabupaten Kuningan
- 2022 : 3,02
- 2023 : 3,41
- 2024 : 3,82
- 2025 : 3,88
Skor IDSD Nasional
- 2022 : 3,26
- 2023 : 3,44
- 2024 : 3,43
- 2025 : 3,50
Datanya jelas.
Kuningan sempat di bawah rata-rata nasional pada 2022–2023. Lalu menyalip pada 2024, dan memperlebar jarak pada 2025. Ini bukan lonjakan instan. Ini tren perbaikan.
Mari lihat isinya. Institusi kuat. Pasar produk sempurna. Skor 5,00. Artinya ekonomi lokal hidup. Dinamika bisnis tinggi. Adopsi TIK bagus. Infrastruktur mulai membuka isolasi wilayah. Desa ikut bergerak lewat UMKM dan pariwisata.
Masih ada yang lemah? Ada. Sistem keuangan dan kapabilitas inovasi. Tapi justru itu yang membuat indeks ini jujur. Tidak dipoles. Tidak direkayasa. Daerah yang nilainya serba sempurna justru patut dicurigai.
Yang menarik, capaian ini lahir dari kerja yang tidak ribut. Tidak banyak pidato. Tidak heboh. Ada penggunaan data. Ada riset. Ada konsistensi kebijakan.
Lalu kenapa sunyi?
Prestasi sebesar ini nyaris lewat tanpa perayaan. Publikasi minim bahkan hanya beberapa media yang memuat. Apresiasi publik tipis. Padahal ini bukan penghargaan yang bisa dibeli, bukan pula gelar hasil lobi yang marak dilakukan pejabat public akhir-akhir ini.
Ini hasil ukur nasional. Berlaku sama untuk semua daerah.
Kita sering ribut soal kegagalan. Jarang serius merayakan keberhasilan yang nyata.
Akibatnya sederhana: yang bekerja benar merasa sendirian, yang bekerja biasa-biasa saja tetap percaya diri.
Pembangunan memang butuh kritik. Tapi juga butuh pengakuan. Bukan untuk memanjakan. Hal ini untuk menjaga arah. Supaya yang sudah benar tidak dibelokkan. Supaya yang bekerja dalam senyap tahu bahwa kerjanya ada artinya.
Kuningan belum selesai. Tapi jelas sedang maju. Itu faktanya. Dan fakta seperti ini seharusnya tidak tenggelam. Yang salah mari kritisi, yang kurang kita perbaiki yang bagus kita apresiasi, ‘fair’ dan ‘gentle’.**
Ageng Sutrisno
Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan
Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.