“Pesta Babi” dan Kuningan: Ketika Alam Mulai “Dijual” Perlahan
FILM Pesta Babi karya Dandhy Laksono bukan sekadar dokumenter tentang Papua. Ia adalah alarm panjang tentang bagaimana tanah perlahan kehilangan hak untuk tetap menjadi tanah. Tentang hutan yang dipaksa lupa menjadi hutan. Tentang sungai yang diarahkan hanya untuk menghidupi industri, bukan kehidupan.
Dan anehnya, ketika saya menonton hiruk-pikuk perdebatan tentang film itu, pikiran saya justru pulang ke Kuningan.
Ke kaki Ciremai.
Ke mata air yang dulu kita banggakan.
Ke pohon-pohon yang dulu dianggap sakral sebelum akhirnya mulai dihitung sebagai “potensi”.
Kita sering merasa isu lingkungan adalah tragedi yang jauh. Seolah kerusakan hanya milik Papua. Seolah pembabatan hutan hanya terjadi di daerah yang masuk headline nasional. Padahal, kehancuran selalu datang dengan cara yang halus terlebih dahulu. Ia datang lewat izin. Lewat kata “investasi”. Lewat kalimat “demi pembangunan daerah”. Lewat rapat-rapat yang lebih sibuk membahas angka dibanding akar.
Dan Kuningan sedang berdiri di persimpangan itu.
Hari ini mungkin kita belum melihat alat berat merobohkan hutan secara brutal seperti dalam Pesta Babi. Tetapi bukankah tanda-tandanya mulai terasa? Bukankah ruang hijau makin sempit? Bukankah debit air mulai berubah? Bukankah udara tak lagi sedingin dulu? Bukankah gunung perlahan lebih sering dipandang sebagai aset ekonomi dibanding warisan ekologis?
Atau ingin melihat contoh nyata yang terjadi saat ini ?
Lembah cilengkrang yang hijau sekarang rentan mengalami longsor, Desa Cisantana yang merupakan sumber mata air kini rawan mengalami kekeringan, Sadapan pinus di Ciremai sekarang semakin meluas.
Yang paling mengerikan dari kerusakan lingkungan bukanlah bunyi pohon tumbang.
Melainkan ketika masyarakat sudah terbiasa melihatnya.
Dalam film itu, masyarakat adat Papua digambarkan perlahan kehilangan hubungan spiritual dengan tanahnya karena ekspansi. Dan saya rasa, kita di Kuningan juga mulai mengalami gejala yang sama: keterputusan emosional dengan alam.
Kita terlalu sibuk membangun tempat nongkrong, tapi lupa menjaga sumber airnya.
Terlalu bangga membuka kawasan wisata, tapi abai pada daya dukung ekologinya.
Terlalu senang melihat investor masuk, sampai lupa bertanya: “Apa yang tersisa untuk anak cucu nanti?”
Pembangunan memang penting. Tidak ada daerah yang bisa hidup hanya dari romantisme masa lalu. Tetapi pembangunan tanpa kesadaran ekologis hanyalah cara modern untuk bunuh diri secara perlahan.
Kita sering lupa bahwa alam punya batas sabar.
Gunung tidak marah lewat pidato.
Hutan tidak protes lewat konferensi pers.
Mata air tidak membuat utas di media sosial.
Mereka diam.
Lalu mati.
Dan ketika alam mulai mati, manusia biasanya baru sibuk membuat seminar.
Ironisnya, banyak orang baru peduli lingkungan ketika bencana datang. Saat banjir mulai masuk rumah. Saat longsor menutup jalan. Saat air bersih mulai sulit. Padahal, kerusakan lingkungan selalu diawali oleh pembiaran kecil yang dianggap biasa.
Satu pohon ditebang, tak masalah.
Satu lereng dibuka, tak masalah.
Satu izin keluar, tak masalah.
Sampai akhirnya semua terlambat.
Film Pesta Babi sebenarnya sedang memperlihatkan satu hal penting: bahwa kolonialisme modern tidak selalu datang membawa senjata. Kadang ia datang membawa proposal investasi, angka pertumbuhan ekonomi, dan jargon pembangunan berkelanjutan atau bahkan proyek strategis nasional yang saya kira sangat tidak strategis.
Dan saya khawatir, banyak daerah termasuk Kuningan terlalu mudah terpesona oleh istilah-istilah itu.
Padahal daerah yang kehilangan hutannya, sejatinya sedang kehilangan masa depannya.
Kita boleh membangun jalan.
Kita boleh membangun wisata.
Kita boleh mengejar pertumbuhan ekonomi.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang: kesadaran bahwa manusia hidup bukan di atas alam, melainkan bersama alam.
Sebab ketika gunung hanya dipandang sebagai komoditas, maka tinggal menunggu waktu sampai manusia menjadi korban dari keserakahannya sendiri.
Mungkin itulah mengapa film seperti Pesta Babi terasa mengganggu bagi sebagian orang bahkan aparat yang tersorot kamera di dalamnya. Karena ia memaksa kita bercermin. Memaksa kita bertanya: selama ini pembangunan yang kita banggakan sebenarnya sedang menyelamatkan kehidupan, atau justru mempercepat kehancuran? Selama ini apakah benar jargon aparat bersama rakyat atau justru menindas rakyat?
Dan pertanyaan itu terasa sangat relevan untuk Kuningan hari ini.
Sebab daerah ini sejak dulu dikenal bukan karena gedungnya, melainkan karena alamnya.
Karena airnya.
Karena hutannya.
Karena kesejukannya.
Karena Ciremai yang berdiri seperti ibu tua yang diam-diam menjaga kehidupan banyak orang.
Tetapi bahkan ibu paling sabar pun bisa lelah.
Dan kalau suatu hari mata air mulai benar-benar mengering, udara makin panas, serta bencana menjadi rutinitas, mungkin saat itu kita akan sadar bahwa yang hilang bukan sekadar pepohonan.
Melainkan kewarasan kita sendiri dalam memperlakukan alam.
Ageng Sutrisno
Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.
Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.