Darurat Sampah Kecamatan Ciawigebang Disorot Adiluhung Indonesia
INILAHKUNINGAN– Adiluhung Indonesia peduli Darurat Sampah di Kabupaten Kuningan. Menyasar masyarakat Kecamatan Ciawigebang, mereka Sosialisasi dan Literasi Pengelolaan Sampah, sekaligus mendorong gerakan pengelolaan sampah terintegrasi, mulai dari sumber atau hulu hingga ke Tempat Pemrosesan Akhir (hilir).
Sosialisasi dan Literasi Pengelolaan Sampah dibuka Wakil Bupati KuninganTuti Andriani. Dalam sambutannya, Ia menyoroti kondisi darurat sampah di Kuningan. Ia memaparkan bahwa volume sampah harian saat ini jauh melampaui kemampuan daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang terbatas, yang mengakibatkan TPA pun kini hampir mengalami overload.
“Artinya, diperlukan upaya serius dari hulu hingga hilir,” tegasnya.
Wabup Tuti menekankan bahwa kunci penyelesaian masalah terletak pada perubahan perilaku masyarakat dan literasi. Pengelolaan harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah organik dan anorganik serta pengurangan sampah dari sumbernya. Pemerintah Kabupaten Kuningan menargetkan, apabila pengelolaan sampah di tingkat desa berjalan optimal, residu yang dibuang ke TPA dapat ditekan hanya berkisar 20–25 persen.
Wabup Tuti kemudian mengajak seluruh kepala desa untuk aktif mengawasi dan memastikan pengelolaan sampah berjalan baik, termasuk memonitor limbah dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.
“Kita tidak boleh berpuas diri. Mari jadikan momentum ini sebagai langkah nyata bergerak bersama menyelesaikan persoalan sampah demi keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi mendatang,” ujarnya.
Founder Adiluhung Indonesia, Dr AA Ade Kadarisman, menjelaskan alasan dipilihnya Kecamatan Ciawigebang sebagai lokasi awal program. Menurutnya, Ciawigebang menempati urutan kedua tertinggi dalam indeks persampahan di Kabupaten Kuningan setelah pusat kota.
“Ciawigebang memiliki kepadatan penduduk tinggi serta aktivitas pasar yang cukup besar. Jika gerakan pengelolaan sampah berhasil di sini, maka akan menjadi contoh positif bagi kecamatan lainnya,” ujar Dr Ade
Rangkaian program Adiluhung Indonesia mencakup social mapping, Focus Group Discussion (FGD) kebijakan, hingga literasi dan sosialisasi yang melibatkan berbagai unsur mulai dari pemerintah, swasta, hingga komunitas.
Camat Kecamatan Ciawigebang Raden Imam Reapdiantoro, S.Sos, M.Si. melalui Sekmat Ciawigebang, Yudi Rickriyanto, S.E., menambahkan bahwa persoalan sampah bukan hanya soal tumpukan sampah saja.
“Persoalan sampah bukan hanya soal tumpukan, melainkan menyangkut kesadaran, pengetahuan, dan perilaku kolektif masyarakat. Ia berharap seluruh desa dapat mengimplementasikan hasil literasi ini melalui gerakan nyata, termasuk optimalisasi daur ulang dan pembiasaan pemilahan sampah dari rumah,” pungkas Yudi./tat azhari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.