INIlAHKUNINGAN– Upaya meningkatkan kemandirian masyarakat tidak selalu dimulai dari bantuan dalam bentuk materi. Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UP3 Cirebon mengambil pendekatan pemberdayaan dengan memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat dhuafa melalui program YBM Berbagi Keterampilan untuk Dhuafa: Pelatihan Pembuatan Telur Asin.

Program tersebut dirancang untuk memberikan peserta pengetahuan sekaligus pengalaman praktik yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif di rumah. Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi peserta diajak memahami tahapan pembuatan telur asin secara langsung, mulai dari mengenal bahan hingga proses pengolahannya.

Pemilihan keterampilan pembuatan telur asin juga memberikan peluang karena produk tersebut relatif mudah dikembangkan dalam skala rumahan. Dengan pengetahuan yang diperoleh, peserta dapat mencoba memproduksi secara mandiri dan mengembangkannya sesuai kemampuan serta potensi pasar di lingkungan masing-masing.

Bagi masyarakat penerima manfaat, pelatihan seperti ini memberikan manfaat yang berbeda dibandingkan bantuan konsumtif. Ilmu yang diperoleh dapat digunakan berulang kali dan berpotensi menjadi modal keterampilan untuk menghasilkan pendapatan tambahan.

Peserta juga mendapatkan pengalaman mengenai proses produksi yang dapat menjadi langkah awal untuk mengenal aktivitas usaha sederhana. Dari produksi untuk kebutuhan sendiri, keterampilan tersebut dapat dikembangkan secara bertahap apabila terdapat peluang pasar dan kemampuan pengelolaan usaha.

Pemberdayaan ini diharapkan dapat membantu masyarakat dhuafa membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi. Ketika keterampilan dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual, masyarakat memiliki alternatif untuk menciptakan sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

Manager PLN UP3 Cirebon, Muhammad Ardian, mengatakan YBM PLN berupaya menghadirkan program yang tidak hanya memberikan manfaat sesaat, tetapi juga dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk berkembang.

“Kami ingin bantuan kepada masyarakat tidak selalu berhenti pada apa yang bisa digunakan hari ini. Melalui pelatihan seperti pembuatan telur asin, kami mencoba memberikan bekal yang dapat dipraktikkan kembali oleh peserta dan berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian,” ujar Muhammad Ardian.

Menurutnya, keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya dilihat dari selesainya pelatihan, tetapi dari kemampuan peserta memanfaatkan ilmu yang diperoleh setelah kegiatan.

“Yang paling penting adalah apa yang terjadi setelah pelatihan. Kami berharap peserta mencoba kembali di rumah, kemudian jika memungkinkan mengembangkan produknya menjadi usaha kecil. Mungkin dimulai dari skala sederhana, tetapi dari proses itulah kemandirian dapat tumbuh,” tambahnya.

General Manager PLN UID Jawa Barat, Muhammad Joharifin, mengatakan pemberdayaan masyarakat melalui keterampilan merupakan bentuk kepedulian yang memiliki potensi manfaat berkelanjutan.

“Bantuan yang paling bernilai adalah bantuan yang mampu membuka kesempatan bagi seseorang untuk berkembang. Ketika kita memberikan keterampilan, kita memberikan bekal yang dapat digunakan berkali-kali. Melalui YBM PLN, kami ingin semangat berbagi juga diterjemahkan menjadi upaya pemberdayaan agar masyarakat memiliki kesempatan untuk menjadi lebih mandiri,” ujar Muhammad Joharifin.

Ia menambahkan bahwa program pemberdayaan perlu terus dikembangkan dengan melihat potensi dan kebutuhan masyarakat.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu jenis keterampilan. Banyak potensi di masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif. Tugas kita adalah membuka akses terhadap pengetahuan dan kesempatan, kemudian masyarakat dapat mengembangkan kemampuan tersebut sesuai potensi yang dimiliki,” tambah Muhammad Joharifin.

Melalui program YBM Berbagi Keterampilan untuk Dhuafa, YBM PLN UP3 Cirebon terus memperluas pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan menggabungkan kepedulian sosial dan peningkatan kapasitas.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa membantu masyarakat tidak selalu berarti memberikan sesuatu untuk dihabiskan. Memberikan keterampilan berarti memberikan bekal untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Dari telur, garam, dan proses sederhana, peserta belajar bahwa peluang usaha dapat dimulai dari keterampilan yang ada di tangan. Hari ini belajar membuat telur asin, besok mungkin lahir produk rumahan, penghasilan tambahan, dan langkah baru menuju kemandirian keluarga./tat azhari