INILAHKUNINGAN- Upaya merawat tradisi sekaligus menjaga sumber mata air menarik perhatian Kemdiktisaintek dan Universitas Teknologi Bandung (UTB) untuk melihat potensi sumber daya air serta kearifan lokal masyarakat Kabupaten Kuningan.

Hal tersebut menjadi salah satu fokus perhatian dalam kegiatan Tirtha Pawitan: Living Lab Sumber Mata Air dari Tradisi Kawin Cai untuk Konservasi dan Ketahanan Air di Kabupaten Kuningan.

Sekretaris Ditjen Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Dr. Samsuri, menyoroti pentingnya pengembangan sains dan teknologi yang berangkat dari potensi lokal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Kabupaten Kuningan memiliki potensi kekayaan sumber mata air, ini harus kita jaga bersama”, pesannya.

Menurut Samsuri, pengembangan sains dan teknologi perlu diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat serta memperkuat potensi daerah.

“Upaya menjaga sumber mata air tidak cukup hanya melalui pendekatan teknis, tetapi juga perlu didukung oleh kesadaran kolektif, keterlibatan masyarakat, dan pelestarian tradisi lokal”, lanjutnya.

Tradisi Kawin Cai yang berlangsung turun-temurun di Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap alam, khususnya sumber mata air. Melalui pendekatan Living Lab (Laboratorium kehidupan), tradisi ini dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian air.

Universitas Teknologi Bandung, Universitas Kuningan, bersama Pemerintah Kabupaten Kuningan serta Yayasan Hibar Budaya Nusantara berkolaborasi mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan kearifan lokal, sains, dan teknologi. Program ini juga mengembangkan sensor berbasis IoT untuk memantau kualitas dan kuantitas air serta TirthaMap, portal peta digital untuk menyajikan informasi sebaran mata air.

Penelitian yang sedang dilaksanakan melalui program Living Lab Tirtha Pawitan berfokus pada pengembangan model konservasi sumber mata air berbasis kearifan lokal, pemantauan kualitas dan kuantitas air menggunakan teknologi Internet of Things (IoT), serta pemetaan digital melalui TirthaMap. Penelitian ini tidak hanya menghasilkan data dan teknologi, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengenali kondisi sumber mata air, memahami pentingnya menjaga kualitas air, dan memperkuat praktik konservasi yang telah tumbuh melalui tradisi Kawin Cai.

Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumber daya air sekaligus memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat Kabupaten Kuningan.

AA Ade Kadarisman, Staf Pengajar/Peneliti dari UTB, mengungkapkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam konservasi sumber mata air.

“Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu terlibat dalam pemantauan air, pemanfaatan teknologi, dan pelestarian kearifan lokal, semangat gotong royong menjaga mata air”, lanjut penulis buku Green Public Relations.

Sementara itu, Rektor UTB, M. Naseer, mengapresiasi tradisi Kawin Cai yang terus dijaga masyarakat secara turun-temurun. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas budaya diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pelestarian budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung ketahanan air di Kabupaten Kuningan serta menjadi pembelajaran bagi daerah lain”, lanjut Naseer.

Acara tradisi tahunan Kawin Cai tahun 2026 ini turut dihadiri Sekretaris Dirjen Saintek Kemdiktisaintek Dr. Samsuri, Rektor UTB Dr. M. Naseer, Ketua Penggerak PKK Hj. Ela Dian Rakhmat, Kadisdikbud, Rektor Universitas Kuningan, akademisi UTB Dr. AA Ade Kadarisman, Camat Jalaksana, Kepala PDAU Kuningan, para kepala desa khususnya di Kecamatan Jalaksana, anggota DPRD Kabupaten Kuningan, dan undangan lainnya./tat azhari