SETIAP kali Agustus tiba, Indonesia kembali memasuki ruang refleksi tentang kemerdekaan. Bendera Merah Putih dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan ingatan kolektif kita dibawa kembali kepada sebuah peristiwa besar pada 17 Agustus 1945. Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak proklamasi itu dikumandangkan. Sebuah rentang sejarah yang cukup panjang untuk bertanya: sejauh mana kemerdekaan telah membawa kita pada cita-cita yang dahulu dirumuskan para pendiri bangsa?

Pertanyaan itu penting karena kemerdekaan tidak pernah berhenti pada terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan adalah perjalanan panjang untuk menghadirkan kedaulatan, keadilan, kesejahteraan, pendidikan, dan martabat manusia. Karena itu, setiap peringatan kemerdekaan semestinya tidak hanya menjadi seremoni untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat dengan jernih wajah Indonesia hari ini. Dan wajah itu, harus kita akui, tidak selalu menggembirakan.

Di tengah berbagai capaian pembangunan, masih terdapat persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat, tata kelola birokrasi yang belum sepenuhnya efektif, serta kebijakan publik yang sering kali berada dalam tarik-menarik kepentingan politik. Menjelang tahun politik 2029, ruang publik bahkan semakin dipenuhi kecurigaan bahwa sebagian kebijakan tidak selalu dapat dipisahkan dari kalkulasi politik jangka pendek. Dalam situasi seperti ini, masyarakat berhak bertanya: apakah kebijakan negara benar-benar sedang dirancang untuk menjawab kebutuhan jangka panjang bangsa, ataukah sebagian di antaranya lebih sibuk menghitung keuntungan politik pada masa yang akan datang?

Pertanyaan semacam itu bukanlah bentuk ketidaksetiaan kepada negara. Justru sebaliknya, kritik yang konstruktif merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Kecintaan kepada Indonesia tidak harus selalu diwujudkan melalui pujian. Kadang-kadang, kecintaan justru hadir dalam bentuk keberanian untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Persoalan yang lebih mendasar terlihat pada pembangunan sumber daya manusia. Kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045, tentang bonus demografi, transformasi digital, kecerdasan artifisial, ekonomi berbasis pengetahuan, dan peningkatan daya saing global. Namun, ambisi sebesar itu akan sulit diwujudkan apabila pendidikan belum ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan.

Pendidikan bukan sekadar salah satu sektor pembangunan. Pendidikan adalah infrastruktur peradaban. Jalan, jembatan, pelabuhan, kawasan industri, dan teknologi dapat dibangun dalam hitungan tahun. Namun kualitas manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Ia dibentuk melalui proses pendidikan yang konsisten, guru dan dosen yang bermutu, ekosistem penelitian yang sehat, kebijakan yang berkelanjutan, serta lingkungan sosial yang memberikan ruang bagi manusia untuk belajar dan berkembang.

Karena itu, berbicara tentang Indonesia Emas tanpa membicarakan kualitas manusia adalah sebuah paradoks. Kita ingin menjadi negara maju, tetapi masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan bermutu, setiap guru dan dosen memiliki ruang untuk berkembang, setiap mahasiswa memperoleh kompetensi yang relevan dengan perubahan zaman, dan setiap warga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya melalui pengetahuan.

Indonesia sedang berada dalam persimpangan sejarah. Dunia berubah dengan kecepatan yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Konsep VUCA—volatility, uncertainty, complexity, ambiguity—telah menggambarkan dunia yang penuh gejolak dan ketidakpastian. Kini, konsep BANI—brittle, anxious, nonlinear, incomprehensible—memberikan gambaran yang bahkan lebih kompleks. Institusi yang terlihat kuat dapat tiba-tiba rapuh. Masyarakat yang tampak tenang dapat menyimpan kecemasan. Perubahan tidak selalu bergerak secara linear. Dan banyak persoalan kehidupan semakin sulit dijelaskan dengan cara berpikir lama. Dalam dunia seperti itu, persoalan terbesar Indonesia mungkin bukan hanya bagaimana menghadapi perubahan, melainkan bagaimana menyiapkan manusia yang mampu hidup dan bertumbuh di tengah perubahan. Di sinilah investasi kompetensi menjadi sangat penting.

Masa depan sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, besarnya anggaran negara, atau banyaknya infrastruktur yang dibangun. Masa depan sangat bergantung pada kualitas manusianya. Negara dengan sumber daya alam melimpah tetapi miskin kompetensi akan tetap bergantung kepada bangsa lain. Sebaliknya, negara yang memiliki sumber daya manusia yang unggul, adaptif, kreatif, berkarakter, dan mampu menguasai pengetahuan dapat mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Karena itu, investasi terbesar Indonesia hari ini seharusnya adalah investasi pada manusia.

Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi memahami bagaimana teknologi digunakan secara etis dan produktif. Kita membutuhkan manusia yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi memiliki kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, berinovasi, dan belajar sepanjang hayat. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengambil keputusan, tetapi mampu membangun manusia dan institusi yang tahan terhadap perubahan. Pada titik inilah kita perlu berbicara tentang growth mindset—cara pandang yang melihat kemampuan bukan sebagai sesuatu yang selesai, tetapi sebagai sesuatu yang dapat terus dikembangkan.

Dalam perspektif ini, persoalan tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Masalah dapat menjadi pembelajaran. Kegagalan dapat menjadi informasi untuk memperbaiki diri. Keterbatasan dapat menjadi pemicu kreativitas. Bahkan krisis dapat menjadi ruang untuk menemukan cara-cara baru dalam menyelesaikan persoalan. Barangkali Indonesia juga membutuhkan growth mindset sebagai sebuah budaya bangsa.

Bangsa yang memiliki growth mindset tidak menutup mata terhadap kegagalannya. Ia berani mengevaluasi diri. Ia tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak terjebak dalam romantisme masa lalu. Ia belajar dari sejarah, tetapi tidak hidup di dalam sejarah. Ia melihat masa depan bukan sebagai sesuatu yang harus ditunggu, melainkan sebagai sesuatu yang harus dibangun. Karena itu, di tengah berbagai persoalan tata kelola negara, kita tidak boleh larut dalam kesemrawutan. Kita boleh kecewa, tetapi jangan kehilangan harapan. Kita boleh kritis, tetapi jangan menjadi sinis. Kita boleh mempertanyakan kebijakan pemerintah, tetapi jangan sampai kehilangan kepedulian terhadap masa depan Indonesia. Dan yang paling penting, kita tidak boleh membiarkan ketidakpastian membuat kita menjadi apatis. Apatisme adalah kemewahan yang tidak mampu kita bayar. Sebab bangsa ini sedang berpacu dengan waktu.

Pada tahun 2045, Indonesia akan genap berusia 100 tahun. Hanya tersisa 19 tahun dari usia kemerdekaan kita yang ke-81 hari ini. Bagi sebuah bangsa, 19 tahun bukan waktu yang panjang. Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah dasar akan menjadi bagian dari generasi produktif ketika Indonesia memasuki satu abad kemerdekaan. Mahasiswa yang hari ini berada di ruang kuliah akan menjadi guru, dosen, birokrat, pengusaha, peneliti, profesional, dan pemimpin pada masa itu.

Dengan demikian, Indonesia Emas bukanlah proyek yang berada jauh di depan kita. Ia sedang dibangun di ruang-ruang kelas hari ini. Ia sedang dibentuk di laboratorium dan pusat-pusat penelitian. Ia sedang tumbuh di rumah-rumah tempat orangtua mendidik anak. Ia sedang dirancang oleh para pemimpin yang mengambil keputusan hari ini. Dan ia sedang dipertaruhkan melalui kualitas pendidikan yang kita berikan kepada generasi sekarang. Karena itu, kita tidak boleh menunggu Indonesia menjadi sempurna untuk mulai berkontribusi.

Seorang guru dapat memulai dari kelasnya. Seorang dosen dapat memulai dari penelitian dan pengajarannya. Seorang mahasiswa dapat memulai dari kesungguhan membangun kompetensinya. Seorang birokrat dapat memulai dari integritasnya. Seorang pengusaha dapat memulai dari inovasinya. Seorang pemimpin dapat memulai dari keteladanannya. Dan setiap warga negara dapat memulai dari tanggung jawab yang berada di hadapannya. Mungkin kontribusi itu kecil. Tetapi kemajuan bangsa hampir selalu dibangun dari akumulasi kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten. Kemerdekaan, dengan demikian, bukan hanya sesuatu yang kita warisi. Kemerdekaan adalah sesuatu yang harus terus kita isi.

Generasi 1945 memiliki medan perjuangan untuk merebut kemerdekaan. Generasi hari ini memiliki medan perjuangan yang berbeda. Kita tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk yang sama. Kita berhadapan dengan ketimpangan, disrupsi teknologi, perubahan dunia kerja, krisis lingkungan, kompetisi global, rendahnya literasi, tantangan pendidikan, dan berbagai bentuk ketidakpastian yang semakin kompleks. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan senjata, perjuangan hari ini dilakukan melalui ilmu pengetahuan, kompetensi, integritas, inovasi, karakter, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, mengisi kemerdekaan pada zaman ini berarti memastikan bahwa setiap generasi memiliki kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan Indonesia dalam satu generasi. Tetapi kita dapat memastikan bahwa generasi berikutnya menerima Indonesia yang sedikit lebih baik daripada yang kita terima. Itulah mungkin bentuk tanggung jawab sejarah yang paling sederhana sekaligus paling berat. Pada akhirnya, optimisme bukan berarti menutup mata terhadap persoalan. Optimisme adalah kemampuan untuk melihat persoalan secara jernih tanpa kehilangan keyakinan bahwa keadaan dapat diperbaiki.

Kita boleh melihat birokrasi yang belum efektif. Kita boleh mempertanyakan kebijakan yang terasa tidak konsisten. Kita boleh mencemaskan arah pendidikan. Kita boleh gelisah terhadap ekonomi dan politik. Namun, semua kegelisahan itu harus menemukan jalan keluarnya dalam bentuk tindakan. Sebab Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengeluh tentang masa depan. Indonesia membutuhkan generasi yang bersedia mempersiapkan masa depan.

Masa depan itu tidak dibangun pada tahun 2045. Ia dibangun hari ini. Ia dibangun ketika seorang mahasiswa memilih untuk belajar lebih sungguh-sungguh. Ketika seorang guru memperbarui pengetahuannya. Ketika seorang dosen melakukan penelitian yang memberi manfaat. Ketika seorang pemimpin memilih integritas daripada kepentingan sesaat. Ketika seorang anak muda belajar teknologi tanpa kehilangan karakter. Ketika seseorang memilih untuk tetap bertumbuh meskipun keadaan tidak selalu berpihak kepadanya. Barangkali inilah makna kemerdekaan yang perlu kita renungkan pada usia Republik yang ke-81.

Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Merdeka adalah kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri. Dan kemampuan menentukan masa depan itu sangat bergantung pada kualitas manusia yang kita bangun hari ini. Maka, di tengah segala kesemrawutan dan ketidakpastian, jangan biarkan api optimisme padam. Jangan biarkan politik jangka pendek mengalahkan visi jangka panjang. Jangan biarkan persoalan hari ini membuat kita lupa bahwa bangsa ini memiliki masa depan yang jauh lebih panjang daripada satu periode pemerintahan.

Kita memiliki 19 tahun untuk mempersiapkan Indonesia menuju satu abad kemerdekaan. Sembilan belas tahun untuk memperbaiki pendidikan. Sembilan belas tahun untuk memperkuat kompetensi manusia. Sembilan belas tahun untuk membangun ekonomi yang lebih inklusif. Sembilan belas tahun untuk memperbaiki tata kelola. Sembilan belas tahun untuk menyiapkan generasi yang mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Dan sembilan belas tahun untuk membuktikan bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan pada 1945 tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi terus menemukan maknanya dalam kehidupan generasi-generasi setelahnya. Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah Indonesia akan menjadi Indonesia Emas.

Pertanyaannya adalah: Apa yang kita lakukan hari ini agar generasi 2045 memiliki alasan untuk percaya bahwa kita pernah bekerja keras mempersiapkan masa depan mereka? Sebab sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa. Sejarah juga mencatat siapa yang memilih untuk tetap bekerja ketika keadaan tidak ideal, siapa yang tetap belajar ketika zaman berubah, dan siapa yang tetap menyalakan harapan ketika banyak orang mulai kehilangan kepercayaan.

Delapan puluh satu tahun Indonesia telah merdeka. Kini giliran kita mengisi kemerdekaan dengan cara kita sendiri. Dengan ilmu. Dengan kompetensi. Dengan integritas. Dengan keberanian. Dengan kemampuan beradaptasi. Dan terutama, dengan keyakinan bahwa Indonesia yang lebih baik masih mungkin kita bangun.**

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka hari ini. Bertumbuh hari ini. Membangun Indonesia Emas mulai hari ini.

 

Dr. Nanan Abdul Manan, M.Pd.

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan

Ketua ICMI ORDA Kuningan

HUR RI 81