Warning, Kasus Stunting Kuningan Naik 19,4%
INILAHKUNINGAN- Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Trisman Supriatna menyebut, berdasarkan data SSGI Tahun 2022, prevalensi atau jumlah kasus Stunting Kabupaten Kuningan mengalami kenaikan menjadi 19,4%.
“Kondisi ini merupakan warning bagi kita semua untuk serius melakukan pencegahan terjadinya kasus stunting. Perlu digalakan kegiatan intervensi langsung sasaran,” ungkap Trisman Supriatna, disela Hari Keluarga Nasional (Harganas) kolaborasi dengan BKKBN Provinsi Jabar, di Desa Cisantana
Sebab itu, Ia sangat berterima kasih kepada BKKBN Perwakilan Jabar atas bantuan kepada Keluarga Beresiko Stunting di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur.
“Di Kecamatan Cigugur ini, ada 213 kasus stunting tercatat, dan 34 kasus stunting ada di Desa Cisantana,” ujar Trisman
Harganas di Desa Cisantana sendiri, diawali kunjungan dan pemberian bantuan ke rumah keluarga beresiko stunting yang memiliki bayi di bawah 2 tahun. Menariknya, ada pelepasan Tim Ekspedisi Pendakian dan Pengibaran Bendera Harganas di Puncak Gunung Ciremai. Tim ekspedisi beranggotakan 12 orang tersebut, dipimpin oleh Sekretaris DPPKBP3A Kuningan Alfalah Shiddieqy. Mereka berasal dari Saka Kencana dan Forum Genre Jawa Barat.
Dipilihnya Gunung Ciremai sebagai lokasi pengibaran bendera Harganas karena Ciremai merupakan gunung dengan puncak tertinggi di Jawa Barat, atau berketinggian 3.078 mdpl.
Perwakilan BKKBN Jawa Barat, yang juga Mentor Bidang KSPK BKKBN Jawa Barat, Elma Triyulianti menegaskan, bahwa ekspedisi ini merupakan simbol dukungan terhadap program prioritas Nasional. Yaitu percepatan stunting,
“Mencapai keluarga bebas stunting itu butuh usaha, butuh ikhtiar. Sama halnya dengan mendaki Gunung Ciremai. Butuh tenaga tidak sedikit, butuh strategi, butuh kolaborasi,” jelas Elma./tat azhari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.