Sulap Lembah Sampah Menjadi Wisata Alam Bantar Delan Desa Karangtawang Kuningan
INILAHKUNINGAN- Seorang Tokoh Masyarakat Desa Karangtawang, Kabupaten Kuningan, mampu menyulap kawasan lembah dalam hutan desa yang dipenuhi sampah, menjadi sebuah destinasi wisata alam. Ialah Ehon (46). Di atas tanahnya sendiri seluas 3 hektar, Objek Wisata itupun beroperasi, bernama Bantar Delan.
Selain berada dibawah bukit, dikelilingi hening pepohonan besar, hamparannya dilengkapi gemericik sejuk Hawangan Landeuh. Selain pembangunan akses jalan, tangga trap, wahana permainan anak, gazebo hingga warung kopi, Hawangan Landeuh yang semula banjir sampah, mendadak bersih berkat gotong royong warga dalam Program Kali Bersih atau Prokasih, Sabtu (09/08/2025)
Tak kalah menarik, Wisata Bantar Delan yang masih digratiskan untuk masyarakat ini, dijaga ratusan monyet dan 8 lutung hitam yang baik. Binatang-binatang itu, bisa terlihat bergelantungan diantara pepohonan lembah, dan sama sekali tidak mengganggu pengunjung.
Potensi Objek Wisata Bantar Delan, sekaligus besarnya semangat gotong royong masyarakat dalam Prokasih, memantik Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar dan Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani menengok lokasi. Turut mendampingi Camat Kuningan, Eko Yuyud Mahendra.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar tidak menyangka kawasan lembah di hutan desa ini, dulu tidak dilirik. Bahkan Ia mengibaratkan kawasan ini sebagai tempat kotor, menakutkan. Bayangkan dari atas sampah menumpuk, disulap oleh Pak Ehon, seorang tokoh masyarakat Desa Karangtawang. Berbulan-bulan mau menata kawasan ini, karena kecintaannya terhadap kampung halaman, melestarikan alam.
“Maka saya presiasi sekali. Saya juga kaget hasilnya, lembah ini menjadi destinasi wisata menarik,” ucap Bupati Dian
Bupati Dian optimis, apalagi ditunjang Prokasih sebagai bentuk kebangkitan kesadaran kolektif masyarakat dalam merawat alam, berbaik dengan sesama, juga perenungan terhadap sang pencipta. Bagaimana sungai dirawat, diruwat. Karena sungai adalah sumber kehidupan, penghidupan.
Jangan ditempatkan sungai di halaman belakang, tapi di halaman depan. Jangan sesaat saja Prokasih ini. Mari canangkan sungai bukan sebagai warisan, tapi titipan untuk anak cucu.
“Sungai harus menjadi barang mewah. Kalau tidak dipelihara, 10 tahun atau 20 tahun kedepan, sungai tinggal cerita. Gemericiknya hilang, mewahnya hilang,” ucap Bupati Dian./tat azhari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.