INILAHKUNINGAN- Guna meredam gejolak harga pangan daerah, Bank Indonesia Sumatera Barat sebagai Inisiator Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), merangkul Rumah Tani Nusantara dalam Capacity Building dan Sosialisasi Skema Kemitraan Kerjasama Antar Daerah (KAD) dan Pengenalan Aplikasi KIAT Sumber.

Kemitraan KAD, salah satunya melibatkan Kabupaten Kuningan.  Pertemuan yang difokuskan untuk mencipta peluang kolaborasi strategis di sektor pertanian sebagai bagian dari Penguatan Pangan Nasioanl khususnya di Sumatera Barat ini, didukung kuat oleh Kemenko dan 17 Kabupaten Kota Se Provinsi Sumatera Barat.

Asisten Deputi Pengembangan BUMN Bidang Infrastruktur dan Logistik RR Yuli Sri Wilanti, SPi, MP, menegaskan, bahwa inflasi pangan daerah di Indonesia adalah refleksi dari perjuangan menjaga kedaulatan pangan di tengah keberagaman geografis.

“Stabilitas harga bukan hanya soal kebijakan moneter dari pusat, melainkan tentang seberapa lancar distribusi bisa sampai ke pasar tujuan dan seberapa sigap pemerintah daerah dan perushaan terkait dalam memotong rantai distribusi yang terlalu panjang,” papar dia

Maka, Bank Indonesia melalui TPID Sumatera Barat menerapkan kerangka kerja secara konsisten untuk meredam gejolak harga, terutama pada komoditas seperti cabai merah, beras,kentang dan bawang merah

KAD sendiri, adalah program kerja prioritas dalam Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2025-2027 untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Optimalisasi KAD ditujukan untuk mengurangi ketimpangan distribusi bahan pangan antar daerah dan mendukung target inflasi Jangka Menengah.

“Seperti KAD Kabupaten Solok dengan Kabupaten Kuningan dengan skema BtoB ini, menjadi salah satu bentuk konkret sinergi pengiriman pasokan bawang merah dari sentra produksi yang surplus ke daerah yang membutuhkan dengan dukungan BUMN Logistik, dalam hal ini Pos Indonesia yang bekerjasama dengan Rumah Tani Nusantara untuk menguatkan konektifitas pasokan regional,” imbuh CEO Rumah Tani Nusantara, yang juga CEO Rumah Tani Kuningan, Bahtiar, Senin (27/4/2026), kepada InilahKuningan

TANTANGAN SUMATERA BARAT

  1. Tantangan Geografis: “Bukit Barisan dan Risiko Bencana” Sumatra Barat didominasi oleh topografi yang ekstrem. Sebagian besar lahan pertanian berada di lereng pegunungan dan lembah sempit yang dipagari oleh gugusan Bukit Barisan.
  2. Tantangan Logistik: “Rantai Dingin yang Terputus” Banyak sentra produksi hortikultura (seperti di Alahan Panjang atau Agam) yang terhubung melalui jalan raya yang berkelok-kelok dan rawan longsor. 3. Tantangan Pasar: “Dominasi Rantai Pengepul” Karena keterbatasan logistik pribadi, petani sangat bergantung pada pedagang pengumpul untuk mengambil hasil panen di lokasi. Hal ini menciptakan posisi tawar yang lemah bagi petani.
  3. Fluktuasi Harga yang Ekstrem Komoditas unggulan seperti cabai merah dan bawang merah sering mengalami harga anjlok drastis karena tidak adanya industri pengolahan (hilirisasi) yang mampu menyerap.
  4. 1. Solusi Geografis: Pertanian Presisi & Input Lokal Untuk menghadapi topografi ekstrem Bukit Barisan dan risiko bencana (longsor/erosi), Rumah Tani dapat menerapkan penggunaan bioaktivator dan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah di lereng agar lebih stabil dan memanfaatkan teknologi pemetaan (GIS) untuk mengidentifikasi area yang paling produktif.
  5. 2. Solusi Logistik: Integrasi Rantai Pasok Hulu ke Hilir bersama PT Pos Indonesia Rumah Tani menguatkan Rantai Pasok Pangan melalui Kolaborasi Logistik Kemitraan dengan PT Pos Indonesia, memanfaatkan jaringan logistik nasional yang menjangkau pelosok untuk menjamin distribusi produk pertanian tetap lancar, bahkan di wilayah terpencil. 3. Solusi Pasar: Penguatan Posisi Tawar melalui Kolektivitas Rumah Tani bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan petani langsung ke pasar industri atau ritel besar, memangkas rantai distribusi yang terlalu panjang.

Rumah Tani Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Sumatera Barat dalam menyerap berbagai komoditas pertanian unggulan, salah satunya bawang merah dari Solok yang dikirim menuju Ciayumajakuning. Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata komitmen kami untuk membantu petani memasarkan hasil panennya secara lebih luas dan berkelanjutan. Sejalan dengan visi Rumah Tani./tat

Idul Fitri 1447 H