INILAHKUNINGAN- Habis kontrak Investor selama 20 tahun, pada pengelolaan Objek Wisata Sangkanhurip Alami, sebagai salah satu wisata pemandian air panas populer, bahkan legenda di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, dikuatkan oleh Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kuningan, Asep Budi Setiawan.

“Kontraknya bersama Investor sebenarnya ada perubahan, dan berakhir Juni 2026,” sebut dia, Minggu (11/4/2026), kepada InilahKuningan

Diakui, Sangkanhurip Alami ini aset pemerintah daerah, yang dikelola disporapar karena berkaitan sektor pariwisata. Termasuk Open Speace Galery Linggajati, Stadion Mashud Wishnusaputra dan GOR Ewangga Kuningan.

Sangkanhurip Alami sendiri sejak dulu telah beroperasi melalui perjanjian bersama Investor. Sebab akan habis masa kontrak Juni 2026 ini, Ia bersama perangkat daerah lain, telah membahas, apakah Sangkanhurip Alami tetap akan dikelola pihak awal, atau ditawarkan ke pihak Investor lain. “Yang pasti, setelah perjanjian berakhir Juni 2026 ini, akan kembali dulu ke disporapar, karena itu aset pemerintah daerah.

Karena pendapatannya sharing profit 40%-60% dari bruto, setiap pekan Investor menyetorkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke disporapar. Jadi data PAD ada disisporapar. Target untuk PAD ke investor pun, diminta terus meningkat. Meskipun hasilnya banyak tidak mencapai target. Misalnya target terakhir Rp650 juta, hanya tercapai 78%.

Tidak tercapainya target PAD, tentu dipahami dia karena banyak kendala. Diantaranya, objek serupa di Kuningan banyak. Apalagi bersaing dengan wisata yang lebih variatif, sarana prasarana lebih banyak, menarik. Terutama jenis usaha sama seperti itu, di sekitar Sangkanhurip Alami juga ada. Baik di sebelah barat, selatan dan utaranya ada.

“Keunggulan Sangkanhurip Alami ini hanya punya air panas alami dari Gunung Ciremai. Itu tidak dimiliki wisata pemandian lain,” ujar dia.

Asep Budi Setiawan tidak menutup mata, jika rivalitas di dunia usaha itu sangat ketat. Siapa yang berbuat, memiliki inovasi, bergerak dengan kekinian, termasuk memanfaatkan publikasi digital, pasti akan mampu menyedot wisatawan. Jika tidak begitu, akan ketinggalan./tat