DI SELA waktu yang sering terasa penuh dan bergegas, mudik selalu hadir sebagai jeda yang tidak tergantikan. Ia datang bukan hanya sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai panggilan yang halus—untuk pulang, dan sekaligus kemb

Kembali ke rumah.
Dan diam-diam, kembali menjadi lebih suci.

Ada sesuatu yang berbeda dari perjalanan ini. Mudik tidak sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia membawa serta rindu yang lama dipendam, kenangan yang sempat tertinggal, dan perasaan yang tak pernah benar-benar selesai.

Di setiap langkah pulang, ada harapan untuk merayakan hari kemenangan dengan hati yang lebih ringan. Seolah-olah perjalanan ini bukan hanya tentang bertemu keluarga, tetapi juga tentang membersihkan diri—dari lelah, dari salah, dari hal-hal yang selama ini kita simpan sendiri.

Mudik, pada akhirnya, adalah perjalanan batin.

Ia menjadi ruang untuk melepas rindu yang tidak sempat diucapkan.
Menyambung kembali cerita yang sempat terputus.
Dan menghidupkan lagi tawa yang dulu terasa begitu akrab.

Di meja makan, di ruang tamu, di halaman rumah yang mungkin tak banyak berubah—kita bertemu kembali dengan saudara, teman, dan handai tolan. Bukan sebagai siapa kita sekarang, tetapi sebagai siapa kita dulu.

Dan di situlah hangatnya terasa.

Bagi banyak orang, termasuk mereka yang berasal dari Kuningan, mudik memiliki makna yang lebih dalam. Kota kecil yang teduh ini menyimpan begitu banyak cerita tentang keberanian untuk pergi.

Ada sebuah keyakinan yang pernah tumbuh di sana: “anak-anakku, merantaulah setelah lulus SMA.”
Sebuah dorongan halus, namun penuh makna—bahwa hidup perlu dijalani lebih luas, lebih jauh, dan lebih berani.

Maka tak heran, banyak warga Kuningan yang menapaki jalan di luar kota. Mereka merantau, membuka usaha, mencari pengalaman, dan membangun kehidupan.

Di berbagai kota, nama Kuningan sering kali melekat pada satu hal yang sederhana namun akrab: warung kopi, atau yang kini dikenal sebagai warmindo. Tempat-tempat kecil yang hangat, tempat orang-orang singgah, berbagi cerita, dan mengisi jeda.

Namun tak sedikit pula yang pergi bukan hanya untuk bekerja. Ada yang melanjutkan pendidikan, memperluas wawasan, atau bahkan melangkah lebih jauh—membangun kehidupan bersama pasangan, di kota yang sebelumnya asing.

Dan dari semua perjalanan itu, mudik menjadi satu titik temu.

Titik di mana jarak terasa dipendekkan.
Waktu seolah dilunakkan.
Dan hati kembali dipertemukan.

Mudik mengajarkan bahwa sejauh apa pun kita pergi, selalu ada tempat yang tidak pernah berubah dalam menyambut kita. Tempat yang tidak menuntut kita menjadi apa-apa, selain menjadi diri sendiri.

Di sanalah kita belajar kembali tentang makna pulang.
Bukan hanya pulang ke rumah, tetapi pulang ke rasa.

Maka ketika langkah membawa kita kembali ke Kuningan—atau justru dari Kuningan menuju kampung halaman lain—yang kita bawa bukan hanya barang atau cerita, tetapi juga hati yang telah diperhalus oleh perjalanan.

**Selamat mudik.
Selamat kembali ke Kuningan.
Dan selamat pulang—dari Kuningan—menuju rumah masing-masing.**

Semoga setiap perjalanan membawa kita pada satu hal yang sama:
hati yang lebih jernih, dan kemenangan yang benar-benar kita rasakan.

Ageng Sutrisno
Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan
Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.

Idul Fitri 1447 H