Kades Cikalahang-Direktur PDAM Kuningan Bersitegang, Gubernur KDM Wasit!
INILAHKUNINGAN- Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) gerak cepat meninjau kisruh pemanfaatan Mata Air Talaga Nilem, Desa Kaduela, Pasawahan, Kabupaten Kuningan oleh PDAM Kuningan, yang dikeluhkan warga tetangganya, Desa Cikalahang, Kabupaten Cirebon. Warga Cikalahang mengadukan kondisi penyusutan besar lahan pertanian didesanya akibat kekeringan.
Didampingi Direktur PDAM Tirta Kemuning Kuningan, Dr Ukas Suharfaputra, KDM menduga krisis air warga Desa Cikalahang muncul sejak aliran mata air di Kaki Gunung Ciremai dikelola secara komersial antar PDAM, termasuk bersama mitra swasta.
KDM pun menemukan sejumlah indikasi pelanggaran, mulai dari pemasangan pipa komersil di jalur saluran air warga, dugaan penutupan pintu air yang mengalihkan aliran ke reservoar perusahaan, hingga rencana penggunaan pompa berkekuatan besar yang dinilai berpotensi mengeksploitasi sumber air.
Kondisi itu, tentu mengganggu siklus air untuk pertanian warga sebagai penerima hak pertama dari air Gunung Ciremai. Bagaimana Pak Dirut?
“Izin Pak, lokasi Mata Air ini, ada di Desa Kaduela pak, masuk ke Kabupaten Kuningan. Kemudian, proses izin kami diberikan BBWS pak. Jadi semua sudah dianalisa oleh BBWS. Begitu mendapat izin, kami baru melaksanakan,” jelas Direktur PDAM Kuningan Dr Ukas Suharfaputra
Soal kekurangan air di Desa Cikalahang, menurut Ukas, sebenarnya sudah terjadi lama. Adapun kerjasama pemanfaatan mata air ini, baru beroperasi belum 1 tahun. “Kenapa terjadi kekeringan, karena banyak pemanfaat illegal pak,” papar Ukas, melaporkan ek KDM
Ukas menegaskan, pemanfaatan air diatur BBWS. PDAM sendiri hanya mendapat porsi 20% saja. Sisanya 50% kembali kea lam, 30% untuk masyarakat. “Maaf ya, 50% kembali ke alamnya yang mana pak, 30% ke masyarakat juga yang mana pak,” timpal salah satu warga mempertanyakan. Yang dijawab Ukas pihaknya hanya berposisi mengajukan izin ke BBWS
KDM pun mencari BBWS, tapi tidak ada di lokasi. “Nanti kita panggil BBWS, nanti kita benerin,” ucap KDM
KDM menilai BBWS sudah menyalahi. Misal, sungai ini harusnya terbuk. Kalau jadi tertutup jadi salah. Pasang pipa juga asaeharusnya tidak mengganggu siklus air di sungai. “nanti kita benerin deh,” janji KDM
Ketegangan mendadak terjadi ketika Kepala Desa Cikalahang mengadukan ke KDM, bahwa tidak pernah ada sosialisasi PDAM Kuningan ke Desa Cikalahang terkait pemanfaatan mata air ini. Merasa sosialisasi, Direktur PDAM Ukas membantahnya. Bahkan Ia mengaku sudah 2 kali sosialisasi, tetapi ketika hendak pemasangan pipa, pihak desa menolak.
Jawaban Ukas yang santai, disambut teriakan bantahan keras kepala desa, sambil menunjuk keras kearah wajah Ukas, yang langsung bisa menahan diri, memilih diam, lalu menghela nafas panjang. KDM yang terkejut, segera mencairkan ketegangan.
KDM mengaku, memahami berbagai konsekwensi dalam mengatasi persoalan ini. Kalau aliran sungainya dibenerin jadi mengalir untuk pertanian warga Desa Cilkalahang, berarti air PDAM mengalami penurunan. Otomatis air kesananya (Indramayu,red) juga bagaimana.
Hanya KDM menegaskan, bahwa tidak ada istilah air Gunung Ciremai milik kabupaten siapa. Semua warga berhak menikmati air gunung. Yang paling pertama punya hak, adalah warga di sekitar kaki gunung. Jadi mata air ini, pertama harus melimpah ke sawah. Kalau sawah terairi, bisa terkelola baik. Sehingga tidak merusak gunung.
“Sebaliknya, kalau sawahnya mengering, tidak bsia panen, warga itu bisa merusak gunung. Konsekwensinya itu ya,” ujar KDM
Kalau gunung terjadi bencana, warga kaki gunung, juga yang pertama kena. Yang menikmati air PDAM disana (Indramayu,red) belum tentu kena.
KDM kemudian mengintruksikan Kepala Desa Cikalahang untuk menghitung ada berapa rumah yang belum teraliri air bersih. Data akan ditindaklanjut provinsi ke lapangan untuk menghitung berapa biaya penanganannya. “Intinya, sebelum air mengalir ke tempat lain, warga disini (Cikalahang,red) harus terpenuhi dulu. Kita tidak mencari kesalahan siapa, kita ingin gunung tetap hijau,” tegas KDM. /tat azhari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.