DI TENGAH riuhnya inovasi digital dan percepatan layanan publik, muncul satu wacana yang terdengar “modern”, namun terasa ganjil: war ticket haji. Sebuah konsep yang membayangkan ibadah haji seperti rebutan tiket konser. Siapa cepat, dia dapat.

Pertanyaannya sederhana: sejak kapan perjalanan spiritual disamakan dengan transaksi hiburan?

Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Ia adalah puncak dari panggilan batin, perjalanan panjang yang tidak hanya menguji kesiapan finansial, tetapi juga kematangan spiritual. Dalam kerangka ini, pendekatan “war ticket” terasa reduktif. Menyederhanakan ibadah menjadi sekadar urusan kecepatan akses dan kecanggihan perangkat.

Jika logika ini dipaksakan, maka yang diuntungkan bukanlah mereka yang paling siap secara ruhani, melainkan mereka yang paling siap secara teknologis. Mereka dengan koneksi internet tercepat, perangkat terbaik, dan literasi digital tertinggi. Di titik itu, ibadah berpotensi tergeser dari ruang sakral menuju arena kompetisi yang kering makna.

Padahal, selama ini pengelolaan haji di Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dibangun di atas prinsip keadilan dan pemerataan. Sistem antrean panjang yang sering dikeluhkan justru menjadi bentuk distribusi kesempatan yang lebih setara, meski belum sempurna. Ia memberi ruang bagi siapa pun, dari latar belakang apa pun, untuk memiliki harapan yang sama: memenuhi panggilan Ilahi.

Memang, daftar tunggu yang panjang adalah persoalan nyata. Namun menjawabnya dengan pendekatan “rebutan” justru berisiko menghilangkan esensi sabar. Nilai yang justru menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah itu sendiri.

Saya teringat cerita kakek saya. Di masanya, berangkat haji bukan sekadar soal daftar dan menunggu beberapa tahun. Ia harus menempuh perjalanan berbulan-bulan menggunakan kapal laut. Tidak ada kepastian jadwal seperti hari ini, tidak ada kemudahan teknologi yang mempersingkat jarak. Tapi justru di situlah letak maknanya: perjalanan panjang itu menjadi bagian dari proses penyucian diri.

Setiap gelombang laut, setiap hari yang berlalu di atas kapal, adalah ruang kontemplasi. Haji bukan hanya tujuan, tapi juga perjalanan secara harfiah dan spiritual.

Bandingkan dengan hari ini. Ketika jarak telah dipangkas oleh teknologi, ketika waktu tempuh hanya hitungan jam, apakah kita juga rela memangkas makna yang menyertainya?

Modernisasi memang tidak bisa dihindari. Sistem bisa diperbaiki, teknologi bisa diadopsi. Namun ada batas yang seharusnya tidak dilampaui: nilai. Ketika metode mulai menggerus makna, di situlah kita perlu berhenti dan bertanya ulang.

Haji bukan konser. Ia bukan soal siapa yang paling cepat klik tombol, melainkan siapa yang paling siap menjawab panggilan.

Di tengah segala wacana dan perdebatan, izinkan saya menyampaikan satu hal yang jauh lebih penting: selamat kepada para jamaah haji yang tahun ini mendapat kesempatan berangkat. Di antara jutaan yang menanti, Anda adalah mereka yang terpilih.

Semoga perjalanan ini bukan hanya menjadi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang membawa pulang ketenangan, kebijaksanaan, dan keberkahan.

Dan bagi kita yang masih menunggu, mungkin yang sedang diuji bukanlah kesempatan melainkan kesabaran.

 

Ageng Sutrisno

Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.

Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.

 

Idul Fitri 1447 H