Warga Desa Penyangga, Penjaga Hutan Ciremai! KTH Rimba Mekar Tanam Lagi 1000 Pohon
KUNINGAN – Peran masyarakat desa penyangga dalam menjaga kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus menunjukkan kontribusi nyata. Melalui Paguyuban Silihwangi Majakuning, kelompok tani hutan (KTH) di puluhan Desa Penyangga tidak hanya menjadi mitra negara dalam konservasi, tetapi juga garda terdepan perlindungan ekosistem hutan dari ancaman kerusakan, mencegah kebakaran, serta turut serta menjaga hutan Ciremai dari aksi pencurian kayu.
Salah satu aktivitasnya tampak pada Jumat (23/01), warga penanaman pohon endemik dan MPTS yang dilaksanakan KTH Rimba Mekar, Kelompok yang berdomisili di Desa Padabeunghar, Kabupaten Kuningan. Kegiatan berlangsung sejak pukul 08.00 WIB itu dipusatkan di Blok Tegal dan Blok Batu Kuda, kawasan zona rehabilitasi TNGC, lokasi di sekitar Kawasan Kebun Raya Kuningan.
Kegiatan ini bukan yang pertama, karena sejak tahun lalu paguyuban ini telah menanam ratusan pohon, dengan hasil yang menggembirakan, banyak yang tumbuh. Karena diikuti perawatan berkala dari masyarakat.
Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar, menerangkan kegiatan ini adalah komitmen jangka panjang masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hutan, bagian dari kehidupan masyrakat di Desa Padabeunghar.
“Hari ini kami melakukan penanaman di zona rehabilitasi, sekaligus pemeliharaan lanjutan di Blok Batu Kuda. Tanaman yang kami dorong adalah jenis endemik Gunung Ciremai, dengan porsi MPTS sekitar 10 persen, seperti petai dan jengkol, untuk mendukung kebutuhan ekonomi warga,” ujar Nandar.
Menurutnya, kesadaran kelompok justru tumbuh dari bawah. Permintaan kegiatan berasal dari anggota KTH sendiri, sementara paguyuban berperan memberikan dukungan bibit, pendampingan teknis, hingga evaluasi berkala.
Warga memilih bibit Pohon yang memiliki akar kuat, menyerap air, dan berusia panjang. Berharap warisan kelestarian hutan bisa sampai ke anak cucu kelak.
“Kami tekankan jangan berhenti di tanam saja. Pemeliharaan dilakukan rutin per triwulan. Tapi karena mereka hidup dan beraktivitas di kawasan ini setiap hari, pengawasan dan perawatan berlangsung secara alami,” katanya.
Lebih jauh, Nandar menyebut KTH di bawah naungan Paguyuban Silihwangi Majakuning juga aktif melakukan patroli hutan, mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta turut mengawasi potensi pencurian kayu di kawasan taman nasional.
Ia juga mengungkapkan, paguyuban baru-baru ini mendapat apresiasi langsung dari jajaran Kementerian Kehutanan dalam agenda silaturahmi nasional, khususnya atas kinerja KTH di wilayah Majakuning.
“Kami berharap percepatan kerja sama (PKS) dengan pemerintah pusat bisa segera terealisasi, agar pengelolaan kawasan berbasis masyarakat semakin kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Kegiatan tersebut melibatkan puluhan anggota KTH, serta dihadiri perwakilan Koramil Pancalang, Kodim 0615/Kuningan, sebagai bagian dari kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kawasan hutan, dan perwakilan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai.
Warga Desa Padabeunghar yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimba Mekar tidak hanya fokus pada penanaman dan perawatan hutan, tetapi juga aktif dalam pencegahan hingga penanganan kebakaran hutan.
Perwakilan warga setempat, Darsa, menyebut keterlibatan warga dalam menjaga kawasan Ciremai dilakukan secara berkelanjutan. Mulai dari kegiatan penanaman, perawatan vegetasi, hingga pembuatan sekat bakar saat musim kemarau sebagai langkah mitigasi kebakaran.
“Ketika musim kemarau, kami membuat sekat bakar untuk antisipasi kebakaran. Bahkan saat kebakaran terjadi, masyarakat sekitar hutan juga turun langsung menjadi pemadam awal,” ujar Padarsa.
Menurutnya, keberhasilan ekologi tidak boleh dilihat secara sempit. Menurutnya, pelestarian lingkungan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Ekologi itu harus mendukung ekonomi, sosial, dan budaya. Kalau hanya ekologinya saja yang berjalan, itu artinya belum berhasil. Ekologi dikatakan berhasil ketika rakyatnya sejahtera,” tegasnya.
Saat ini, KTH Rimba Mekar memiliki sekitar 40 anggota aktif. Jumlah tersebut bertambah dengan keterlibatan masyarakat dari desa sekitarnya, seperti Pasawahan, Padaherang, hingga Bantaragung yang ikut bergabung dalam berbagai kegiatan pelestarian hutan.
Dia berharap, upaya yang dilakukan masyarakat mendapat dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. Ia menilai kekompakan lintas pihak menjadi kunci agar pelestarian ekologi dapat berjalan beriringan dengan pembangunan sosial dan ekonomi warga sekitar hutan.
“Kami berharap ada dukungan dan kekompakan dari semua pihak untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam menjaga hutan Ciremai,” pungkasnya. (Bubud Sihabudin)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.