MALAM itu selepas Persib menggasak Persija, seorang anak 15 tahun bernama Faliq Nuli hanya ingin pulang.

Ia baru selesai mengaji.
Lalu diminta membeli bensin dan sayur oleh keluarganya.

Aktivitas sederhana.
Sesederhana kehidupan anak kampung pada umumnya.

Namun siapa sangka,
perjalanan singkat itu berubah menjadi mimpi buruk.

Di jalanan Kuningan yang biasanya ramai oleh lalu-lalang masyarakat, seorang anak justru diduga dikeroyok beramai-ramai. Ditendang dari motor. Dipukul bersama-sama. Motornya rusak. Tubuhnya terluka.

Dan yang paling menyakitkan:
diduga hanya karena kaos sepak bola yang ia kenakan.

Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
sejak kapan jersey menjadi alasan untuk menghilangkan rasa kemanusiaan?

Sepak bola lahir dari gairah.
Dari cinta terhadap klub.
Dari kebanggaan terhadap identitas.

Namun ketika fanatisme berubah menjadi kekerasan, maka yang tersisa bukan lagi loyalitas, melainkan kehilangan akal sehat.

Yang dikeroyok bukan pemain profesional.
Bukan provokator.
Bukan pelaku kriminal.

Ia seorang anak.
Seorang santri.
Yang malam itu hanya sedang pulang.

Lebih ironis lagi, kejadian ini terjadi di tengah budaya masyarakat Kuningan yang selama ini dikenal religius, ramah, dan menjunjung nilai kekeluargaan.

Anak sekecil itu harus bersimbah darah dan meringkuk di ruang gawat darurat rumah sakit daerah.

Karena itu, kasus ini tidak boleh berhenti hanya sebagai viral sesaat.

Peristiwa ini harus diusut tuntas.
Pelaku harus diproses hukum secara adil.
Bukan untuk membalas kebencian, tetapi untuk menjaga agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Sebab jika kekerasan seperti ini dibiarkan,
maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keamanan jalanan.

Tetapi masa depan generasi muda kita.

Rivalitas boleh ada.
Dukungan terhadap klub boleh membara.

Namun tidak ada pertandingan apa pun yang lebih penting daripada nyawa dan kemanusiaan.

Kuningan tidak boleh kalah oleh brutalitas.

Dan seorang anak tidak boleh pulang dengan luka hanya karena berbeda warna jersey.

 

Ageng Sutrisno

Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan.

Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.