INILAHKUNINGAN- Jumlah kasus HIV/Aids di Kabupaten Kuningan semakin memprihatinkan. Hingga pertengahan Tahun 2026, penderita penyakit bervirus mematikan, melalui cara merusak sistem kekebalan tubuh hingga menyerang sel darah putih ini, telah mencapai 1.500 penderita. Ketua Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kuningan, Asep Susan Sanjaya, tidak memungkiri jumlah itu.

Ia mengakui, angka kasus HIV/Aids di Kuningan telah menunjukkan tren mengkhawatirkan. Setiap tahun, penemuan kasus baru mencapai lebih dari 100 orang.

“Setiap tahunnya dari Januari sampai Desember itu penemuan kasus baru lebih dari 100 orang. Itu sangat mengkhawatirkan. Tiap tahun meningkat dan kumulatif sudah lebih dari 1.400-an, sekarang sekitar 1.500 orang,” beber Asep Papay, sapaan akrabnya, Kamis (20/8/2026), kepada InilahKuningan

Menurutnya, peningkatan kasus tersebut cukup signifikan. Ia memperkirakan kenaikannya berada di kisaran 30% setiap tahun. Kondisi tersebut, menjadi alasan penting mengapa edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, harus terus digencarkan.

Kata dia, persoalan HIV/Aids tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa. Kasus juga ditemukan pada kalangan pelajar. “Pelajar ada yang terpapar, SMP dan SMA juga ada,” sebut Asep Papay

Selain pelajar SMP dan SMA, Ia menyebut terdapat pula kasus pada anak usia sekolah dasar yang berkaitan dengan penularan dari ibu kepada anak.

Karena itu, deteksi dini terhadap ibu hamil menjadi salah satu langkah penting dalam memutus rantai penularan. Pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan maupun selama kehamilan dinilai dapat membantu menemukan risiko lebih awal.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai perlindungan diri dan perilaku berisiko harus diberikan di setiap sosialisasi.

“Ini bukan tanggung jawab hanya pemerintah daerah. Ini tanggung jawab kita bersama untuk zero infection. Nol infeksi menjadi tanggung jawab bersama,” tegas Asep Papay

Di sisi lain, Asep mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun mengucilkan orang yang telah terpapar HIV/Aids.

Menurutnya, orang yang terpapar tetap dapat hidup sehat, produktif, dan berdaya selama mendapatkan penanganan serta dukungan yang tepat.

“Jangan sampai yang tidak terpapar memberikan stigma, jangan sampai mengucilkan, karena Aids itu bisa dikendalikan,” katanya.

Untuk menekan risiko penularan HIV/Aids, Asep mengingatkan masyarakat agar menghindari perilaku berisiko. Ia menekankan pentingnya kesetiaan terhadap pasangan dan tidak menggunakan narkoba suntik secara bergantian.

“Harus setia pada pasangan dan jangan pernah memakai narkoba suntik, khususnya berbagi pakai jarum suntik,” pesannya./tat azhari

HUR RI 81