MENURUT   pandangan Kelompok 2, gengsi sering membuat seseorang merasa harus terlihat mampu. Padahal, hidup sederhana justru memberi ruang untuk memanfaatkan subsidi pendidikan dan kesehatan.  kalah di level gengsi bukan berarti kalah dalam kehidupan.

Pina Maharani menanggapi bahwa gengsi bukanlah tolak ukur kesejahteraan. Masyarakat yang hidup sederhana justru memiliki kesempatan untuk menerima subsidi yang membantu keberlangsungan hidup. Oleh karena itu, pilihan hidup sederhana patut dipertimbangkan.

Nova Oktia Azzahra menanggapi Fenomena bangku kosong di sejumlah SDN saat penerimaan peserta didik baru bukan sekadar masalah statistik. Ini adalah sinyal kuat adanya krisis kepercayaan publik terhadap kualitas, fasilitas, dan relevansi kurikulum sekolah pelat merah di tengah gempuran sekolah swasta inovatif.

Anggun Fitriatul Aulia menanggapi Fenomena gengsi sosial sering memengaruhi pola hidup masyarakat. Namun, kesederhanaan dan pemanfaatan subsidi menunjukkan sikap bijak dalam menghadapi realitas kehidupan. Hal ini membuktikan bahwa kesejahteraan tidak selalu diukur dari penampilan.

Niya Laelasari menanggapi Penurunan minat masyarakat terhadap Sekolah Dasar Negeri (SDN) di berbagai kota besar bukan lagi sekadar isu teknis soal bangunan tua, ruang kelas terbatas, atau fasilitas yang kalah modern. Fenomena ini telah bergeser menjadi persoalan yang lebih dalam: prestise sosial. Di tengah masyarakat urban dan kelas menengah, pilihan sekolah telah menjadi penanda status ekonomi sekaligus simbol keberhasilan orang tua.

Menurut pandangan Jiyan Siti  Sahriah Menyekolahkan anak ke sekolah swasta terutama yang berlabel internasional, berbasis agama tertentu, atau menawarkan kurikulum global kerap dipersepsikan sebagai bukti kesuksesan finansial dan visi pendidikan modern. Sebaliknya, SDN sering kali ditempatkan dalam citra “pilihan terakhir”: sekolah gratis, standar minimum, dan diperuntukkan bagi mereka yang “tidak punya opsi lain”. Stigma inilah yang menjadi tantangan terbesar SDN hari ini.

Menurut pandangan Naila Zahrotu Syiefa Hidup sederhana lebih menguntungkan dibandingkan mengejar gengsi. Hal ini karena subsidi pendidikan dan kebutuhan dasar dapat membantu memenuhi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kestabilan hidup dapat tercapai tanpa harus memaksakan diri.

Menurut pandangan Zahra Dhiyatul Ulhaq Masalahnya terletak pada persepsi. Di banyak lingkungan perkotaan, kualitas pendidikan kerap disederhanakan menjadi tampilan fisik dan label harga. Sekolah dengan gedung megah, seragam eksklusif, serta iuran mahal dianggap lebih “bermutu”, meskipun tidak selalu ada bukti konkret bahwa lulusannya lebih unggul secara akademik maupun karakter.

Menurut pandangan Jihan Kamilah Fenomena gengsi dalam masyarakat sering membuat orang lupa pada kebutuhan yang sebenarnya. Kesederhanaan justru mengajarkan kita untuk hidup realistis dan memanfaatkan bantuan yang tersedia. Dari hal tersebut, Naila menyadari bahwa ketenangan hidup lebih penting daripada pengakuan sosial.

Menurut pandangan Tiara Marcella Jangan biarkan SD Negeri menjadi ‘pilihan terakhir’. Sekolah negeri harus kembali menjadi jantung peradaban desa dan kota. Saatnya kita berhenti melihat bangku kosong di SDN sebagai angka statistik, dan mulai melihatnya sebagai ‘alarm’ bahwa sistem pendidikan kita butuh revolusi, bukan sekadar renovasi.

Menurut pandangan Fitriyani Pendidikan bukan tentang memindahkan anak ke gedung yang paling megah, tapi tentang memastikan setiap anak di gang sempit maupun perumahan elit mendapatkan hak yang sama atas kualitas ilmu. Mengembalikan kejayaan SD Negeri adalah upaya kita menjaga janji konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa memandang kasta ekonomi.

Menurut pandangan Syifa Khoerunnisa, dapat disimpulkan bahwa hidup sederhana lebih memberi manfaat daripada mengejar gengsi. Subsidi membantu memenuhi kebutuhan dasar dan menjaga keseimbangan hidup. mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan gengsi sebagai tujuan hidup. Dengan hidup sederhana dan memanfaatkan subsidi secara bijak, kehidupan dapat berjalan lebih stabil.

Menurut pandangan Nabila Aulia Azzahra Untuk menyelamatkan SD Negeri, pemerintah tidak bisa hanya memperbaiki gedung, tetapi harus melakukan revolusi kualitas. Hal ini mencakup peningkatan kreativitas guru, penguatan karakter siswa, serta memberikan kebebasan bagi sekolah untuk berinovasi tanpa hambatan aturan yang kaku. Selain itu, citra sekolah negeri harus dibangun ulang secara bersama-sama melalui kerja sama dengan media dan masyarakat agar publik menilai sekolah berdasarkan kualitas prosesnya, bukan sekadar kemegahan fisik atau mahalnya biaya.

” Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa kualitas pendidikan tidak diukur dari tingginya biaya atau mewahnya seragam, melainkan dari kedalaman ilmu dan karakter yang dibentuk., mengejar gengsi hanya akan membuat kita lupa pada kebutuhan yang sebenarnya. Hidup sederhana dengan memanfaatkan subsidi pendidikan bukan berarti kalah, melainkan sebuah langkah bijak untuk menjaga kestabilan masa depan tanpa harus memaksakan diri demi pengakuan sosial.

Mengembalikan kejayaan SD Negeri adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga janji konstitusi: memastikan setiap anak bangsa mendapatkan hak pendidikan yang berkualitas tanpa tersekat kasta ekonomi. Mari berhenti menjadikan gengsi sebagai standar keberhasilan, dan mulailah menjadikan kualitas serta kejujuran dalam belajar sebagai prioritas utama.”

Penulis: PGSD 1D, Kelompok 2 Pedagogika, Angkatan 2025