Genjot Sektor Pertanian, Kuningan Gali Potensi Bioprospeksi Gunung Ciremai
INILAHKUNINGAN- Bogor Nature Indonesia (BNGi) jalin kerja sama dengan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai gelar Diskusi Pengembangan Bioprospeksi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) serta rencana survey dan pembuatan demplot Bioprospeksi TNGC, Sabtu (7/9/2024), di Cordela Hotel Kuningan.
Kepala Balai TNGC Toni Anwar mengaku, Ia telah mengawali hal tersebut dari tahun 2018. Kemudian ditindaklanjuti melalui nota kesepahaman antara Dirjen SDA dan BNGi dengan membuat perencanaan 5 tahun ke depan.
“Maka diskusi ini penting untuk mengidentifikasi potensi bioprospeksi di TNGC, yang dikenal dengan kekayaan flora dan faunanya yang unik. Para peserta mengeksplorasi peluang untuk penelitian lebih lanjut serta pengembangan produk berbasis sumber daya alam yang dapat mendukung ekonomi lokal sekaligus memastikan pelestarian ekosistem,” kata Toni Anwar
Toni Anwar berharap diskusi dapat membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih erat antara pihak-pihak terkait dalam upaya perlindungan lingkungan dan pengembangan berkelanjutan.
Kepala Bogor Natur Indonesia (BNGi)) Prof Hadi S Alikodra, menjelaskan bahwa bioprospeksi adalah proses pencarian dan pemanfaatan sumber daya hayati, terutama sumber daya genetik dan materi biologi lainnya, untuk kepentingan komersial. Bioprospeksi bertujuan untuk menemukan dan memanfaatkan potensi biologis yang ada di alam, baik dari tanaman, mikroorganisme, maupun organisme lainnya, yang dapat digunakan dalam berbagai industri seperti farmasi, pertanian, dan kosmetik.
“Bioprospeksi melibatkan identifikasi dan eksplorasi spesies serta bahan biologi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk menemukan komponen baru dengan manfaat ekonomi, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan sumber daya hayati dengan memperhatikan aspek konservasi dan keberagaman biologis. Oleh karena itu, bioprospeksi harus dilakukan dengan hati-hati dan bertanggung jawab, agar tidak merusak ekosistem yang ada,” papar Pakar Konservasi Indonesia ini
Menurut Prof Hadi S Alikodra, TNGC Kabupaten Kuningan memiliki potensi untuk pengembangan Bioprospeksi. Adanya tangki air raksasa, letak dan ketinggian (ekosistem, plasma Nutfah, elang Jawa, macan tutul dan juga nilai sejarah.
Untuk riset sendiri, Prof Hadi S Alikodra menegaskan, perlunya 4 tahapan penting. Yaitu tahap 1 inventarisasi pengetahuan lokal, eksplorasi sumber daya hayati, dan koleksi spesimen, tahap 2 identifikasi dan isolasi senyawa aktif/informasi genetis, karakteristik dan produksi senyawa spesifik, tahap 3 screening dan konfirmasi aktivitas biologis dan tahap 4 pengembangan produk dan pengujian, komersialisasi produk tahapan bioprospeksi. Kemudian membangun demplot di Kabupaten Kuningan dan Majalengka.
“Pemanfaatan hasil bioprospeksi harus didasarkan pada prinsip keadilan dan manfaat yang adil bagi komunitas lokal yang memiliki pengetahuan tradisional mengenai sumber daya hayati tersebut,” imbuhnya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr Wahyu Hidayah menyatakan siap berkolaborasi dalam pengembangan Bioprospeksi untuk kemajuan sektor pertanian, khususnya dalam meningkatkan kualitas, produksi dan produktivitas komoditas pertanian.
Apalagi beber Wahyu, Kabupaten Kuningan sudah memiliki sertifikat padi organik di Desa Jatisari Kecamatan Subang. “Jadi semoga Bioprospeksi ini bisa dikembangkan bukan hanya di sekitar TNGC saja, namun di wilayah lain seperti Cibingbin yang memiliki keterbatasan air, bioprospeksi membuat tanaman lebih tahan terhadap kekurangan air. Sehingga bisa meningkatkan produktivitas padi di lahan sawah tadah hujan,” harap Wahyu Hidayah
Wahyu Hidayah ingin melalui Bioprospeksi dapat membantu menemukan gen atau bahan aktif dari tanaman liar atau mikroba yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama, penyakit, atau kondisi lingkungan ekstrem.
”Kami berharap dengan adanya pengembangan bioprospeksi dapat memberikan solusi inovatif dan berkelanjutan untuk berbagai tantangan dalam pertanian di Kabupaten Kuningan,” harapnya.
Turut hadir dalam diskusi tersebut, Kepala BTNGC, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII Provinsi Jawa Barat, Perwakilan DLH, Diskanak, Dinkopdagperin, DPUTR, Disporapar, Akademisi, Tim IPB, Tim BNGi, dan undangan lainnya./tat azhari


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.