Bupati Kuningan Sindir Kepala SMP Soal Proyek Fisik Sekolah, Sebut Kemajuan Singapura!
INILAHKUNINGAN– Menjadi Keynote Speaker, dalam Retret atau Pembekalan Pendidikan Karakter, bagi Kepala Sekolah SMP se Kabupaten Kuningan, hajat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kuningan, di Kebun Raya Kuningan, Sabtu (22/8/2026), Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menekankan arti pembangunan manusia, juga mengingatkan kepala sekolah sebagai agen perubahan, sekaligus arsitek budaya sekolah.
Bupati Dian mengajak para kepala sekolah untuk kembali melihat hakikat utama dari tugas mereka. Menurutnya, kepala sekolah bukan sekadar bertugas membangun sarana dan prasarana sekolah, mengejar prestasi, maupun memastikan kelengkapan administrasi, tetapi memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni membangun manusia.
“Apa sebetulnya yang sedang kita bangun ketika kita membangun atau menjadi kepala sekolah? Apakah membangun tembok-tembok sekolah yang kokoh? Apakah agar di sekolah punya rak prestasi yang penuh dengan piala? Ataukah membuat ruang kelas yang megah?” ujarnya.
Bupati menegaskan, yang sesungguhnya sedang dibangun oleh para kepala sekolah adalah manusia.
“Bagi saya, Bapak dan Ibu sedang membangun manusia, bukan sedang membangun fisik,” tegasnya.
Ia menjelaskan, bangunan sekolah dapat direnovasi, kurikulum dapat diperbaiki dan teknologi akan terus berkembang. Namun, proses membentuk manusia memiliki dampak yang jauh lebih panjang karena berkaitan dengan masa depan anak, keluarga, masyarakat, hingga arah pembangunan daerah.
Dian juga menempatkan pendidikan sebagai investasi utama dalam pembangunan Kabupaten Kuningan. Ia mencontohkan Singapura yang sejak puluhan tahun lalu menyadari bahwa keterbatasan sumber daya alam harus diimbangi dengan investasi besar dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Membangun manusia itu merupakan sebuah investasi, bukan biaya,” katanya.
Menurut Dian, target tersebut membutuhkan kerja yang tidak biasa. Seluruh insan pendidikan harus berani melakukan perubahan dan menghadirkan lingkungan sekolah yang membuat anak bukan sekadar datang karena kewajiban, tetapi benar-benar memiliki keinginan untuk belajar.
“Tugas kita hari ini bukan sekadar memastikan anak datang ke sekolah, tapi memastikan anak itu ingin ke sekolah,” ungkapnya.
Ia berharap sekolah dapat menjadi tempat yang aman, nyaman, menyenangkan, sekaligus mampu mengembangkan potensi setiap peserta didik. Sebab, setiap anak memiliki bakat dan keunggulan yang berbeda.
“Pendidikan tidak boleh seragam untuk anak yang tidak berseragam bakatnya,” katanya.
Lebih lanjut, Bupati Dian menyebut kepala sekolah sebagai agen perubahan sekaligus arsitek budaya sekolah. Budaya yang dibangun oleh seorang kepala sekolah, menurutnya, akan sangat menentukan karakter seluruh ekosistem pendidikan di sekolah tersebut.
“Jika kepala sekolah rajin membangun budaya disiplin, maka sekolah akan disiplin. Jika membangun budaya belajar, maka budaya belajar akan kental. Jika membangun budaya saling menghargai, maka anak didik dan gurunya akan saling menghargai,” jelasnya.
Melalui kegiatan retret dan pembekalan tersebut, Dian berharap para kepala sekolah semakin solid, memiliki semangat perubahan, serta mampu memperkuat karakter dan budaya positif di lingkungan sekolah.
Ia pun berpesan agar para kepala sekolah tidak takut untuk memiliki mimpi besar dalam memajukan pendidikan./tat azhari



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.