DI TENGAH derasnya arus informasi media sosial, banyak isu datang dan pergi seperti ombak. Viral hari ini, tenggelam esok hari. Namun ada beberapa fenomena yang berbeda. Ia bukan sekadar tren digital, melainkan gejala sosial yang layak dibaca lebih dalam. Salah satunya adalah menguatnya narasi “Reformasi Jilid 2” yang dalam pemantauan Drone Emprit selama periode 1–9 Juni 2026 menghasilkan lebih dari 19 ribu percakapan dan 17,7 juta interaksi di berbagai platform digital.

Angka tersebut tentu tidak otomatis berarti seluruh rakyat Indonesia mendukung gagasan Reformasi Jilid 2. Namun angka itu cukup besar untuk menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang bergerak dalam kesadaran publik.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pemerintah setuju atau tidak dengan narasi tersebut. Pertanyaannya adalah: mengapa narasi itu muncul, mengapa begitu cepat menyebar, dan apa pelajaran yang dapat dipetik oleh masyarakat maupun pemerintah?

Ketika Media Sosial Menjadi Arena Produksi Realitas

Dalam teori komunikasi modern, terdapat konsep Agenda Setting Theory yang diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Teori ini menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat, tetapi media sangat berpengaruh dalam menentukan isu apa yang dianggap penting untuk dipikirkan.

Di era digital, fungsi tersebut tidak lagi dimonopoli media massa. Media sosial memungkinkan masyarakat sendiri menjadi produsen agenda. Fenomena Reformasi Jilid 2 menunjukkan bagaimana ribuan akun, influencer, kelompok mahasiswa, komunitas, hingga media alternatif secara kolektif membentuk satu fokus perhatian publik. Akibatnya, isu yang sebelumnya tersebar dalam bentuk keluhan ekonomi, PHK, nilai tukar rupiah, atau korupsi, perlahan menyatu menjadi satu narasi besar.

Narasi itu berbunyi sederhana: “Ada masalah yang lebih besar daripada sekadar persoalan ekonomi biasa.”Dalam konteks komunikasi politik, inilah yang disebut framing, yaitu proses menyusun berbagai fakta yang terpisah menjadi sebuah cerita yang memiliki makna politik tertentu.

Yang Dominan Bukan Kemarahan, Melainkan Ketakutan

Salah satu temuan menarik dari analisis Drone Emprit adalah dominasi emosi fear (ketakutan) dibandingkan anger (kemarahan).

Banyak orang mengira gerakan sosial lahir dari kemarahan. Faktanya, dalam banyak kasus sejarah, ketakutan justru menjadi bahan bakar yang lebih kuat. Emosi ketakutan yang menangkap ruang digital kita hari ini bukanlah ketakutan yang abstrak, melainkan kecemasan nyata yang mengetuk pintu-pintu rumah kelas menengah: ketakutan kehilangan pekerjaan di tengah badai efisiensi, ketakutan daya beli yang terus tergerus, hingga ketakutan bahwa ruang demokrasi dan kepastian hukum bagi anak-anak mereka di masa depan sedang memburuk.

Masyarakat dapat menoleransi kondisi sulit dalam jangka waktu tertentu. Namun ketika muncul rasa takut terhadap masa depan, maka muncul pula kebutuhan kolektif untuk mencari perubahan. Dalam perspektif psikologi komunikasi, ketakutan menciptakan kebutuhan terhadap kepastian. Ketika kepastian tidak ditemukan dalam narasi resmi, masyarakat akan mencari alternatif penjelasan, pemimpin baru, atau bahkan gerakan baru. Karena itu, tingginya emosi fear dalam percakapan digital perlu dipahami sebagai sinyal sosial yang mendalam, bukan sekadar statistik angka harian.

Pelajaran dari Teori Kebijakan Publik

Ketakutan kolektif di ruang digital ini pada gilirannya tidak boleh diisolasi sebagai riak psikologis semata, karena ia adalah bahan bakar potensial yang mampu mengubah arah kebijakan publik. Dalam ilmu kebijakan, terdapat teori terkenal dari John Kingdon yang disebut Multiple Streams Framework.

Menurut teori ini, perubahan atau guncangan kebijakan besar biasanya terjadi ketika tiga aliran

(streams) bertemu dalam satu waktu:

  1. Problem Stream (masalah nyata yang dirasakan dan disepakati oleh publik)
  2. Policy Stream (tersedianya alternatif-alternatif solusi)
  3. Political Stream (momentum politik yang mendukung terjadinya perubahan)

Ketika ketiga aliran tersebut bertemu, terbuka apa yang disebut sebagai policy window atau jendela perubahan.

Jika kita melihat fenomena Reformasi Jilid 2 melalui kacamata ini, terlihat jelas bahwa unsur pertama yakni problem stream sudah mulai mengkristal kuat. Masalah ekonomi dibicarakan luas, kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan menguat, dan kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah menyelesaikan persoalan mulai diperdebatkan secara terbuka.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah pemerintah mampu menghadirkan solusi (policy stream) yang cukup meyakinkan sebelum ketidakpuasan ini bertemu dengan momentum politik (political stream) yang lebih besar. Karena dalam sejarah kebijakan publik, banyak krisis tidak terjadi karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena respons terhadap masalah dianggap terlalu kecil dan terlambat.

Masyarakat Perlu Belajar Membedakan Kritik dan Kepanikan

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting.

Media sosial memiliki kecenderungan memperbesar emosi. Algoritma lebih menyukai kemarahan, ketakutan, dan konflik dibandingkan diskusi yang tenang. Akibatnya, tidak semua yang viral mencerminkan realitas secara utuh.

Kritik terhadap pemerintah adalah bagian penting, bahkan vitamin bagi demokrasi. Namun masyarakat juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam spiral kepanikan kolektif yang justru memperburuk keadaan. Sejarah menunjukkan bahwa banyak negara mengalami kerugian besar ketika ketidakpercayaan publik berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan institusi untuk memperbaiki keadaan.

Karena itu, literasi digital menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk memverifikasi informasi, membandingkan sumber, dan memisahkan mana data yang valid dan mana opini yang emosional.

Pemerintah Tidak Bisa Lagi Mengandalkan Komunikasi Satu Arah

Pelajaran paling penting bagi pemerintah adalah bahwa era komunikasi satu arah telah berakhir.

Dulu pemerintah cukup mengeluarkan pernyataan resmi melalui konferensi pers atau media massa konvensional untuk menenangkan keadaan. Hari ini, sebuah narasi tandingan dapat dibangun secara organik oleh ribuan akun dalam hitungan jam.

Dalam teori komunikasi publik, legitimasi tidak lagi hanya dibangun melalui kewenangan formal atau podium kekuasaan, tetapi juga melalui responsivitas dan partisipasi. Masyarakat ingin merasa didengar. Masyarakat ingin melihat bahwa pemerintah memahami masalah nyata yang mereka rasakan di pasar dan tempat kerja. Lebih dari itu, masyarakat ingin melihat tindakan, bukan hanya retorika penjelasan.

Karena itu, ketika keresahan ekonomi menjadi tema dominan percakapan digital, respons yang paling dibutuhkan bukan semata-mata pengamanan situasi atau kontra-narasi di media, melainkan komunikasi yang transparan disertai langkah nyata yang dampaknya dapat langsung dirasakan di dapur masyarakat.

Penutup: Jangan Abaikan Sinyal Kecil Sebelum Menjadi Gelombang Besar

Apakah Reformasi Jilid 2 akan benar-benar terjadi? Tidak ada data yang mampu menjawab pertanyaan itu secara pasti. Namun data mampu menunjukkan dengan jelas ke mana arah perubahan suasana batin publik.

Pelajaran terbesar dari analisis Drone Emprit bukanlah tentang jumlah mention, engagement, atau tagar yang viral. Pelajaran terbesarnya adalah bahwa masyarakat sedang mengirimkan sinyal. Dalam demokrasi yang sehat, sinyal tersebut tidak perlu ditakuti, diapresiasi secara berlebihan, atau justru dicurigai. Sinyal itu harus dibaca dengan jernih.

Sebab sejarah sering kali menunjukkan satu hal yang sama: gelombang besar hampir selalu diawali oleh riak-riak kecil yang pada awalnya dianggap tidak penting. Ketika jutaan percakapan mulai berbicara tentang keresahan yang sama, tugas masyarakat adalah menjaga nalar agar tidak tenggelam dalam kepanikan. Tugas pemerintah adalah mendengar sebelum kritik berubah menjadi kemarahan, dan kemarahan berubah menjadi gerakan.

Sebab pada akhirnya, stabilitas yang sejati tidak lahir dari kemampuan meredam suara publik, melainkan dari kemampuan menjawab alasan mengapa suara itu muncul.

Ageng Sutrisno

Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah Kuningan.

Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik, dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.

Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.