ADA lembaga yang tak sekadar membutuhkan laporan keuangan yang rapi, tetapi juga keberanian untuk dihidupkan kembali. Perumda Aneka Usaha Kuningan yang dikenal sebagai PDAU hari ini berada di titik itu. Titik di mana angka, aset, dan amanah bertemu dalam satu pertanyaan besar: apakah ia masih bisa diselamatkan?

Hingga akhir 2025, kondisi perusahaan daerah ini tidak sedang baik-baik saja. Evaluasi BPKP menempatkannya pada kategori “Kurang Sehat” dengan skor kinerja 44. Selama kurang lebih 16 tahun berjalan, Perumda ini belum mampu menjawab ekspektasi daerah dalam bentuk kontribusi PAD yang signifikan. Bahkan, bagi sebagian pihak, ia lebih sering dipandang sebagai beban daripada penopang ekonomi daerah.

Masalahnya bukan sekadar angka. Perumda Aneka Usaha kehilangan sumber napas terbesarnya ketika pengelolaan Waduk Darma diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sejak itu, perusahaan bergantung pada beberapa objek wisata alam di kawasan Gunung Ciremai yang potensinya besar, tetapi pengelolaannya belum menemukan bentuk terbaiknya.

Di tengah tekanan itu, kepemimpinan pun goyah. Pengunduran diri direktur sebelumnya pada November 2025 menjadi penanda bahwa beban ini tidak ringan. Kini, tongkat estafet berada di tangan direktur baru. Harapan yang dititipkan tidak kecil, bahkan terdengar nyaris mustahil: menyumbang PAD hingga Rp1 miliar per tahun.

Namun, munculnya nama-nama kandidat dengan profil mentereng dan rekam jejak korporasi internasional dalam bursa seleksi kali ini memberikan secercah cahaya. Publik kini menanti, apakah latar belakang profesional yang kuat tersebut mampu membedah sumbatan birokrasi dan membawa mentalitas efisiensi ke dalam tubuh BUMD.

Perumda ini tidak bisa diselamatkan hanya dengan slogan. Ia membutuhkan kepemimpinan yang berani mengambil keputusan tidak populer serta kemampuan membaca potensi baru di luar pola lama. Rencana menuju transparansi, efisiensi, dan digitalisasi tiket wisata bukan lagi pilihan tambahan, melainkan sebuah keharusan untuk bertahan hidup.

Artikel ini bukan sekadar tuntutan, melainkan titipan. Titipan agar direktur baru tidak hanya mengejar status “Sehat” di atas kertas, tetapi benar-benar mengembalikan makna Perumda sebagai motor pembangunan ekonomi. Perumda Aneka Usaha Kuningan sedang sakit, tetapi belum mati. Selama masih ada keberanian untuk berubah, masih ada ruang untuk sembuh. Dan hari ini, harapan itu kami titipkan pada pundak direktur yang baru.

Ageng Sutrisno
Penulis Sela Waktu, Kolom Mingguan Inilah kuningan
Biasa menulis tentang kehidupan, sosial, politik dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan statistik.
Kalau tidak menulis, biasanya sedang mikir kenapa harga nasi goreng terus naik.