Sampah Over 485 Ton/Hari, Anak Buah Prabowo Ini Ingin Kuningan Contoh Jepang, Singapura
INILAHKUNINGAN- Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) RI, kembali melirik darurat sampah di Kabupaten Kuningan. Bersama Anggota Komisi XII DPR RI H Rokhmat Ardiyan, MM, mereka menggulir Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Penanganan Sampah bertajuk Kedaruratan Pengelolaan B3 dan/atau Pengelolaan Limbah B3, di Aula Meeting Room Joglo Arunika, Kuningan, Sabtu (7/11).
Rokhmat Ardiyan menyoroti sampah dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Kabupaten Kuningan yang perlu mendapat perhatian, pengelolaan serius. Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, diperlukan langkah konkret dan inovasi agar sampah tidak sekadar menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
“Penanganan sampah ini harus dimulai dari lingkungan terkecil. Yaitu rumah tangga, RT, RW hingga pemerintahan desa. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi persoalan sampah yang volumenya terus meningkat,” ungkap HRA, sapaan akrabnya
Anak buah Prabowo Subianto ini menyebut, timbulan sampah di Kabupaten Kuningan mencapai lebih dari 485 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton dapat diangkut, sedangkan sisanya harus ditangani melalui berbagai upaya pengolahan.
“Persoalan sampah ini harus kita tangani secara serius. Kesadaran itu harus dimulai dari rumah tangga, dari RT, RW sampai desa. Jangan sampai sampah hanya dibuang begitu saja, terlebih sampah plastik dan limbah B3 yang berpotensi membahayakan lingkungan,” ujarnya.
HRA mencontohkan sejumlah negara dan daerah yang berhasil mengembangkan pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna. Di Singapura dan Jepang, sampah dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Sementara di Kabupaten Banyumas, sampah diolah menjadi paving block.
Menurutnya, Kuningan juga memiliki potensi mengembangkan inovasi serupa. Bahkan, beberapa desa mulai menunjukkan upaya pengelolaan sampah secara mandiri, termasuk mengolah sampah organik menjadi pupuk dan bahan budidaya maggot.
Kepala Bidang Pengolahan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan, H Andi SE juga menyebut, timbulan sampah di daerah tersebut mencapai 485 ton per hari. Namun, baru sekitar 40 persen yang berhasil dikelola, sedangkan 60 persen lain masih belum tertangani.
Menurut Andi, sampah yang belum terkelola masih ditemukan di lahan warga, pinggir jalan hingga sungai. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah keterbatasan sarana pengangkutan, biaya operasional, sumber daya manusia serta kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) yang hampir mengalami kelebihan daya tampung.
Terlebih, Kabupaten Kuningan saat ini tengah menjalani pemantauan dan penilaian Adipura. Karena itu, DLH mendorong keterlibatan masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya, meliputi sampah organik, anorganik dan sampah yang mengandung B3.
“Targetnya, apabila upaya pemilahan dan pengelolaan ini dapat diterapkan di tingkat desa, sampah residu yang dibuang ke TPA hanya sekitar 20 persen. Sementara saat ini masih sekitar 75 persen sampah yang masuk ke TPA,” jelasnya.
Andi berharap bimbingan teknis dan sosialisasi tersebut dapat melahirkan inovasi serta langkah nyata dalam pengelolaan sampah dan limbah B3. Dengan begitu, penanganan sampah di Kabupaten Kuningan dapat dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir, sekaligus mengurangi beban TPA dan dampak pencemaran lingkungan./tat azhari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.