Ormas Islam Mulai Bergerak Ke Curug Go’ong

oleh -

INILAHKUNINGAN- Ratusan personil Ormas Islam sudah mulai berkumpul di Halaman Mesjid Kelurahan Cigugur, Senin pagi (20/07), pukul 08.00. Mereka longmarch menuju lokasi Proyek Curug Goong, Desa Cisantana, milik Paseban Tri Panca Tunggal.

Pukul 09.00, massa meluncur menggunakan motor ke lapangan Desa Cisantana untuk bersatu bersama ratusan masyarakat gabungan setiap dusun se Desa Cisantana. Masyarakat sendiri terus berbondong secara bergerombol dari setiap dusun. Dusun jauh, berbondong menggunakan mobil pick up.

Mereka berkumpul tanpa atribut Ormas Islam. Di titik kumpul, mereka terlebih dahulu menggelar apel. Setiap ketua Ormas Islam, berorasi, mengingatkan sekaligus menegaskan tujuan sebenarnya mereka dalam mengawal Aparat Satpol PP dalam penyegelan Proyek Curug Go’ong.

Dari sana, mereka rencana longmarch jalan kaki sambil menggaungkan dzikir menuju lokasi proyek milik Komuilnitas Adat Sunda Wiwitan, Paseban Tri Panca Tunggal, yang disinyalir bs dijadikan tempat pemujaan.

“Kenali kawan. Jangan sampai ada orang luar membuat situasi menjadi tidak kondusif,” tegas Ketua FPI Kuningan, Ust Endin Kholidin

Jubir Aksi Pengawalan, Cecep Murad, menyebut informasi penyegelan Proyek Curug Goong mengalami perubahan dari rencana pukul 14.00 menjadi 11.00./azhari

BERITA LAINNYA

3 thoughts on “Ormas Islam Mulai Bergerak Ke Curug Go’ong

  1. Surat Terbuka
    Untuk Yang Terhormat Bapak Bupati
    Kepala Daerah Tk.II Kuningan

    Bapak Bupati yang sangat saya hormati,
    Sebagai orang yang lahir dan besar di Cigugur, walaupun sekarang saya tinggal di Bandung, saya merasa prihatin atas demo “orang-orang luar” Cigugur menyikapi pembangunan Komplek Pemakaman di Curug Goong. Sungguh peristiwa tersebut telah melukai hati kami. Kami terluka, karena bagi kami “proyek” tersebut merupakan ungkapan hati kami yang ingin menghormati jasa para sesepuh kami. Bagi kami, kehadiran para sesepuh kami, baik yang dulu memulai kehadirannya melalui Agama Jawa Sunda,maupun sekarang berada dalam Kelompok Penghayat Kepercayaan Adat Karuhun Urang, telah membawa sejarah peradaban baru dalam masyarakat Cigugur. Saya, yang dilahirkan di Cigugur, mera saya yakin, bahwa tanpa kehadiran beliau-beliau di Cigugur,mungkin Cigugur hanya akan tetap menjadi kampung Padara, yang ketinggalan dibandingkan kampung-kampung lainnya. Cigugur bisa berkembang dan maju antara lain berkat jasapara sesepuh kami, selain peran pemerintah yang memang selalu memperhatikan kemajuan rakyatnya. Lalu, kalau kami bermaksud “sekedar” membangun tempat peristirahatan yang layak bagi para sesepuh kami, apanya yang salah ?

    Bapak Bupati yang saya hormati,
    Bahwa ada pihak-pihak yang memiliki kekhawatiran dalam dirinya-bertolak dari kacamata keagamaan mereka- tentu saja perlu dihormati. Bahkan patut disyukuri, itu semua merupakan bentuk kepedulian mereka sebagai sesama yang sama-sama ciptaan Tuhan, yang tidak menghendaki saudaranya sesat. Saya sendiri sebagai penganut agama Katolik, yang memiliki sedikit pengetahuan tentang konsep keagamaan yang ada pada kelompok penghayat dariorang tua saya, justru tidak melihat sama sekali ada kekhawatiran seperti yang dikhawatirkan “beberapa oknum umat beragama” itu. Dan itu sangat jelas dalam ajaran mereka : “munjung mah lain ka gunung tapi ka indung, muja mah lain ka sagara tapi ka bapa” (menyembah dan memuja itu bukan pada gunung dan lautan tetapi sewajibnya pada ibu dan bapa atau orang tua kita sendiri).

    Bapak Bupati yang saya hormati,
    Bahwa kelak setelah makam itu terisi, lalu orang datang ke sana, apanya juga yang salah ?. Bukankah kita punya tradisi “nyekar” sebagai wujud cinta dan penghormatan kita kepada para leluhur. Bukankah kita percaya, bahwa sesungguhnya sekalipun manusia itu sudah mati, tetapi ia hidup dalam alam keabadian.Bukankah kita percaya, bahwa dengan itu kita masih bisa berkomunikasi dengan mereka yang hidup dalam “alam lain” dan masih bisa merasakan “kehadirannya” ?. Bukankah tradisi itu juga hidup di kalangan Saudara-saudara Muslim yang datang berdoa di makam Para Wali ?

    Bapak Bupati yang saya hormati,
    Sekali lagi perlu saya sampaikan, Curug Goong itu “proyek”kami warga Cigugur,bukan “proyek pribadi Bapak Djatikusumah dan keluarga”. Justru kami akan merasa berdosa dan malu bila proyek itu “gagal” , kami akan merasa malu, kami akan merasa karena “anak”yang tak tahu diri, yang tak menghormati orang tuanya. Oleh karena itu, melalui surat ini saya selaku pribadi dan keluarga memohon kebijakan Bapak untuk segera mentralisir situasi yang ada. Bantulah kami mewujudkan mimpi kami untuk menghormati orang tua dan para sesepuh kami. Kalaupun ada hal-hal yang kurang dalam pelaksanaan “proyek” ini, mohon ditunjukkan, dan mohon difasilitasi.
    Saya berdoa, semoga segenap umat beragama di Cigugur dan Kuningan pada umumnya dapat senantiasa berusaha, supaya selalu mengedepankan persatuan dan kerukunan-bukan permusuhan dan kebencian, mengutamakan kebaikan-bukan kejahatan, mengutamakan kehendak Allah – bukan memaksakan kuasa dan pikiran sendiri. Sebab,yang dikehendaki Allah itu: kedamaian, keadilan, kerukunan, persaudaraan, pengampunan, saling mengasihi, kesederajatan,penghormatan terhadap orang lain. Semoga dibawah kepemimpinan Bapak, sejahteralah masyarakat Kuningan lahir dan bathin. Amin

    Terima kasih.

  2. Setahu saya kebebasan beragama dan menjalankan ibadah dijamin undang undang. Apakah bapak2 yg menolak dan demo paham dengan isi undang undang yaa? Indonesia negara demokrasi berdasarkan Pancasila , hak beragama sesorang dijamin oleh undang undang negara Indonesia. Indonesia negara yg mencintai kedamaian, bangsa indonesia juga cinta damai dan sangat toleran. Ingatlah jati diri bangsa indonesia sendiri jangan kehilangan jati diri yg sejati. Dimana tanah dipijak disana langit dijunjung. Indonesia memiliki budaya sendiri , hiduplah dengan berbahagia dan bangga dengan budaya alsi Indoneaia sendiri

  3. tetaplah semangat kluarga kami yang di kuningan.
    kami yg di RIAU hanya bisa ikut prihatin dengan keadaan ini.
    suatu saat ketika berjodoh,kita akan bersama dalam satu wadah untuk memperjuangkan peninggalan leluhur bumi pertiwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *