Dilayani Buruk RSUD 45’, Pasien “Kabur” Ke RS Sekarkamulyan

oleh -Dibaca : 6.842
Photo: RSUD 45 Kuningan

INILAHKUNINGAN- Pelayanan RSUD 45 Kuningan dikeluhkan. Aktivis Himpunan Mahsiswa Islam (HMI) Genie, bahkan menyebutnya buruk. Penilaian itu, sesuai yang dialaminya. Bukan isu.

Genie bercerita, pengalaman tidak mengenakan ketika membawa anak sulungnya berobat ke Poli Anak RSUD 45 Kuningan belum lama ini. Sudah 4 hari anaknya mengalami batuk, pilek, demam dan sesak nafas.


Saat daftar, Ia mengambil jalur umum. Tidak menggunakan BPJS. Usai bayar biaya daftar Rp60 ribu, Ia diarahkan ke poli anak. Kebetulan tidak mengantri, anaknya segera diperiksa dokter. Hasilnya disarankan dirawat inap. Genie dan istri, pun menyetujui karena kondisi anaknya sudah mengkhawatirkan.

Kemudian diproseslah administrasi di poli anak, hingga mendapatkan kamar untuk perawatan. “Bahkan, saya diminta untuk melakukan beberapa penyelesaian proses lain,” tutur Genie, Rabu (16/06/2021), kepada InilahKuningan

Salah satunya, Ia diharuskan ke apotek rawat inap untuk mengambil obat, ke admisi lalu ke laboratorium untuk di ambil sampel darah dan rapid. Terakhir ke bagian radiologi untuk di lakukan poto rontgen.

BACA JUGA :  Tindak Kriminal Jabar Tembus 6.848 Kasus

Anehnya, mekanisme yang dilakukannya itu, ternyata dianggap salah oleh bagian admisi. Setelah dari apotek rawat inap, Ia diharuskan ke laboratorium dahulu. Permintaan staf administrasi pun dituruti oleh Genie.

Ia langsung ke laboratorium, untuk melakukan pengecekan dan membayar Rp195.000. Setelah selesai, oleh staf laboratorium Ia sarankan untuk ke admisi lagi sambil menunggu hasil laboratorium keluar. Setelah dari laboratorium, Ia  ke bagian radiologi untuk rontgen.

“Disitu saya mendapat pertanyaan konyol bagi saya. Staf radiologi memeriksa berkas saya dan menganggap anak saya rawat jalan, dan harus membayar. Sudah saya jelaskan, anak saya rawat inap dan sudah dapat kamar, kenapa rawat inap saya harus membayar jasa radiologi duluan. Padahal biasanya di akhir ketika pasien pulang, semua di kalkulasi. Tapi menurut dia (staf radiologi,red) sama saja. Dan, saya tidak mempermasalahkan. Saya pun melakukan pembayaran Rp51.000 rupiah di kasir,” papar Genie

BACA JUGA :  Anggi: Perusahaan “Cuek” THR, Bentuk Kejahatan

Setelah menunjukan bukti pembayaran, barulah anaknya dirontgen. Sama seperti di laboratorium, sambil menunggu hasil keluar Ia disarankan untuk ke adminisgtrasi. Tetapi lagi lagi anaknya ditolak oleh administrasi untuk masuk ruangan dengan alasan menunggu hasil dari laboratorium sekitar 30 menit.

Khawatir kondisi anaknya yang semakin mengkhawatirkan, ditambah sesak napas serta dehidrasi, Ia berinisiatif untuk menanyakan hasil laboratorium secara langsung. Ia pun kaget ketika mendapatkan jawaban, bahwa hasil pemeriksaan laboratorium anaknya keluar 2 jam kedepan.

“Ini yang jadi masalah, mengapa pasien harus menunggu administrasi selesai baru mendapatkan penanganan. Padahal pasien sudah mendapatkan kamar. Karena khawatir kondisi anak saya, terpaksa saya membatalkan rawat inap di RSUD 45 dan memilih membawa ke RS Sekarkamulyan,” ungkap dia

BACA JUGA :  Asda II “Bongkar” Penyebab Kisruh Air Desa Kaduela

Menurut pria 2 anak ini, pelayanan RSUD 45 Kuningan dari tahun ke tahun, tidak ada perubahan. Ia pun berharap kepada bupati, wakil bupati, legislatif bisa menanggapi permasalahan RSUD 45 ini secara serius. Sebab ini adalah rumah sakit milik pemerintah daerah. Yang kebanyakan anggarannya di sokong oleh pemerintah daerah. Yang notabene dana rakhyat.

“Seharusnya mampu melayani masyarakat secara maksimal. Pelayanan ASN RSUD 45 buruk. Harus dibina serius. Dahulukan penanganan pasien, administrasi bisa sambil jalan. Harus juga ramah, senyum dan memberikan rasa nyaman kepada pasien maupun keluarga pasien,” saran Genie, dengan nada kesal./tat azhari

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *