Bukan Hanya Rakor Bansos, Ada Studi Tiru Aplikasi Simnangkis Di Semarang

oleh -
Photo: Ence Ahadiat Rohanda

INILAHKUNINGAN- Dituding tidak punya nurani akibat Rakor Bansos di Semarang, membuat Kabid Rehabilitasi Sosial, pada Dinas Sosial Kuningan, Ence Hadiat Rohanda, angkat bicara.

Dijelaskan Ence, rakor bansos di Semarang tidak hanya diikuti oleh dinsos. Bahkan, dari dinsos hanya dirinya dan kepala dinas. Sisanya, diikutkan pentolan bappeda, dinas peternakan perikanan, dinas ketahanan pangan dan pertanian, diskopdagperin, DPMD, BPS hingga ada juga APH, atau aparat penegak hukum.


“Dari dinsos, hanya motor saja. Itupun hanya ikut saya sama pak kadis,” terang Ence, seraya tersenyum, Rabu (05/01/2022), kepada InilahKuningan

Keikutsertaan mereka, karena penanganan kemiskinan tidak bisa sendiri. Dibutuhkan peran aktif, atau keroyokan dari mereka. Misal BPS terkait data, DPMD agar kepala desa mampu lebih intens, dinamis, memverifikasi data kemiskinan supaya tidak salah sasaran.

BACA JUGA :  Rakor Di Semarang, Sadam: Dimana Nurani Pejabat Dinsos Kuningan?

“Penetapan validasi data, harus melalui musyawarah desa. Itu pintu gerbang data valid,” ujar dia

Begitu dinas peternakan perikanan, tujuannya ia ingin masyarakat penerima manfaat tidak menjadi objek. Misal warga miskin, bisa tidak mereka didorong agar 1 atau 2 tahun kedepan tidak lagi menerima program bantuan sosial, dan bisa mandiri.

Soal tempat rakor, diakui sebenarnya bisa dimana saja. Mengambil lokasi Semarang, tentu diharapkan ada ruh yang sama untuk menerbitkan satu produk hasil analisa telaahan untuk Kabuapten Kuningan sendiri. “Maka. Itu tinggal sejauhmana keroyokannya itu,” ujar Ence lagi

BACA JUGA :  Rakor Di Semarang, Sadam: Dimana Nurani Pejabat Dinsos Kuningan?

Disamping rakor, tidak kalah penting adalah ada agenda studi tiru Aplikasi Simnangkis, atau Sistem Manajemen Penanggulangan Kemiskinan, yang dibeberapa wilayah Provinsi Jawa tengah sudah memasang aplikasi itu.

Menurut Ence, Aplikasi Simnangkis sudah terbukti efektif. Di BPKS versi 2021 sendiri, tidak muncul tingkat kesejahteraan masyarakat, detil 1, 2, 3, 4 bahkan 5 plus. Disitu Ia kesulitan memeta klasifikasi kemiskinan masyarakat Kuningan . Warga sangat miskin berapa orang, warga miskin berapa orang.

BACA JUGA :  Rakor Di Semarang, Sadam: Dimana Nurani Pejabat Dinsos Kuningan?

“Nah, Aplikasi Simnangkis bisa memfilter itu. Termasuk bisa membagi jenis bantuan sosial bagi masyarakat. Beda tanpa aplikasi seperti sekarang atau manual, kan repot,” kata Ence

Akibatnya muncul kasus. Seperti muncul dalam satu program, ada kasus double nama. Tapi kalau by sistem, kasus double nama bisa teratasi otomatis. Juga bisa dilihat masyarakat Kuningan yang membutuh program apa, missal perumahan atau kesehatan, bisa terfilter dalam aplikasi itu.

Ence mengaku sudah kontak dengan pemilik sistem tersebut. Rencana ke Semarang, ada beberapa alternatif studi tiru Aplikasi Simnangkis. Yaitu di  Rembang atau Pekalongan./tat azhari

 

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *