INILAHKUNINGAN- Organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU), menjadi rebutan banyak Bakal Calon (Balon) Bupati Kuningan 2024. Bagaimana dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang lahir dari rahim NU, apakah otomatis NU mendukung jagoan PKB.

Ketua PC Nahdlatul Ulama Kuningan, KH Aam Aminudin, tidak memungkiri, NU di Kabupaten Kuningan dikelilingi oleh banyak calon bupati atau wakil bupati untuk Pilkada 2024. Hal ini menunjukkan pengaruh dan potensi besar NU dalam kancah politik lokal.

“Dukungan NU biasanya, dapat menjadi faktor penentu bagi kemenangan kandidat dalam pilkada,” aku Abah Aam, sapaan akrabnya, Rabu (12/6/2024), kepada InilahKuningan

Pada Pilkada di Kabupaten Kuningan, sikap Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi keagamaan biasanya berfokus pada menjaga netralitas dan mengedepankan nilai-nilai keadilan, persatuan, dan kepentingan umat. Sebagai organisasi keagamaan  yang besar di Kuningan, NU selalu mendorong para anggotanya untuk menggunakan hak pilih mereka secara bijak dan bertanggung jawab, memilih pemimpin yang benar-benar memperjuangkan kepentingan masyarakat.

NU memiliki prinsip untuk tidak terlibat langsung dalam politik praktis, meskipun banyak anggota yang aktif dalam partai politik. “Dalam hal ini. NU menekankan pentingnya menjaga moral dan etika dalam berpolitik, serta memastikan bahwa proses demokrasi berjalan baik sesuai hukum,” jelasnya

Terkait Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang memiliki akar sejarah kuat dengan NU, diakui Abah Aam, memang seringkali mendapatkan dukungan dari kalangan Nahdliyin. Di Kabupaten Kuningan, PKB mungkin memiliki peran penting dalam dinamika politik lokal, termasuk dalam pilkada. Dukungan atau keterlibatan kader NU dalam PKB, biasanya berdasarkan kesamaan visi dan misi dalam memperjuangkan aspirasi umat Islam, khususnya mereka yang berasal dari kalangan NU.

Namun, sebagai sebuah organisasi, NU tetap memegang teguh prinsipnya untuk tidak berafiliasi secara resmi dengan partai politik mana pun. Keputusan untuk mendukung calon tertentu biasanya diserahkan kepada individu anggota, dengan harapan mereka memilih berdasarkan pertimbangan moral dan keagamaan yang kuat.

“Meskipun PKB didirikan oleh NU dan banyak anggotanya adalah kader NU, NU secara organisasi tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. NU mengambil posisi netral dan tidak mendukung salah satu kandidat atau partai politik tertentu. Hal ini sesuai dengan komitmen NU untuk fokus pada peran sosial dan keagamaan, tidak terlibat dalam politik praktis,” tegas Abah Aam

Secara keseluruhan, sikap NU terhadap Pilkada di Kabupaten Kuningan adalah mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses demokrasi dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Sementara PKB berusaha menggalang dukungan berdasarkan nilai-nilai yang sejalan dengan perjuangan NU.

“NU netral dalam Pilkada 2024, sebagai mana PBNU telah mengeluarkan instruksi kepada seluruh pengurus NU di daerah untuk tidak terlibat dalam politik praktis dan tidak menggunakan nama NU untuk kepentingan politik. Netralitas ini dimaksudkan agar NU dapat menjaga persatuan dan fokus pada peran utamanya sebagai organisasi sosial dan keagamaan,” tegasnya lagi./tat azhari