Terminal Paniis Kuningan Rp7 Miliar Mangkrak, Buang-Buang Anggaran?
INILAHKUNINGAN- Dibangun dengan anggaran sekitar Rp7 miliar Tahun 2019, Terminal Desa Paniis, Pasawahan, Kabupaten Kuningan, sebagai penopang kawasan wisata di Kuningan Utara, terutama menuju Kebun Raya Kuningan, terlihat mangkrak. Terminal tersebut, masih sepi. Belum menunjukan tanda-tanda ada aktivitas transfortasi.
Kepala Dinas Perhubungan Kuningan, HM Nurdijanto, mengakui Terminal Paniis belum beroperasi. Meski begitu, Ia memastikan terminal tidak sepenuhnya ditelantarkan.Pengawasan aset amsih terus dilakukan oleh petugasnya agar tetap aman dan terawatt.
“Untuk pemberdayaan, kita membuka opsi kerja sama pengelolaan dengan investor atau pihak ketiga,” ucap HM Nurdijanto
Ia berharap, skema ini dapat menghidupkan kembali fungsi terminal tanpa mengubah struktur bangunan yang ada. Status lahan milik desa, pembangunan oleh provinsi, dan pengelolaan diserahkan ke Pemkab Kuningan melalui Dishub Kuningan.
Melalui upaya tersebut, Ia juga berharap Terminal Paniis dapat kembali dimanfaatkan secara produktif guna mendukung ekosistem pariwisata Kuningan Utara, serta memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Harapan tersebut, sesuai tujuan dibangunnya Terminal Paniis ini, yang sejak awal memang didesain untuk mendukung konsep pengembangan pariwisata terpadu di Kuningan Utara.
Lokasi Desa Paniis dipilih karena dinilai strategis dan berada pada koridor pengembangan wilayah utara yang kala itu diproyeksikan terhubung dengan geliat pembangunan Bandara Kertajati. Dimana, kelak Bandara Kertajati maju pesat, bisa ikut terdampak positif, khususnya terhadap pengembangan wisata di Kuningan Utara ini.
Namun, rencana operasional terminal tak berjalan mulus. Proses penyelesaian pembangunan bertepatan dengan merebaknya pandemi Covid-19, yang secara langsung menghentikan pergerakan wisata dan transportasi.
Dampaknya, konsep layanan yang telah disusun belum sempat diimplementasikan.
“Begitu terminal selesai, pandemi terjadi. Setelah kondisi mulai normal, pengembangan Kertajati pun belum pulih sepenuhnya. Padahal konsep awalnya, kendaraan wisatawan berhenti di Terminal Paniis, lalu dilanjutkan menggunakan angkutan pengumpan menuju sejumlah destinasi wisata Kuningan Utara dengan sistem tiket terintegrasi,” katanya./red


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.