2 Tahun, 100 Ribu Bibit Pohon Ditanam Paguyuban Siliwangi Majakuning, Ini Sebarannya!
INILAHKUNINGAN– Majalengka – Kepedulian masyarakat desa penyangga Gunung Ciremai, baik dari Kuningan maupun Majalengka, terhadap kelestarian hutan Gunung Ciremai kembali dibuktikan melalui aksi nyata. Kelompok Tani Hutan yang tergabung dalam Paguyuban Silihwangi Majakuning, hari ini kembali menanam 980 pohon endemik di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, tepatnya di Blok Keempat Resort Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.
Kegiatan penanaman yang berlangsung Rabu, 4 Februari 2026, ini memanfaatkan tingginya curah hujan sejak akhir 2025. Aksi tersebut menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan masyarakat Kuningan dan Majalengka dalam menjaga ekosistem Ciremai, khususnya di areal rawan longsor dan bekas kebakaran hutan.
Penanaman melibatkan KTH Ciremai Indah Desa Argalingga, KTH Panghegar Desa Argamukti, KTH Caladi Sakti Desa Gunung Wangi, serta KTH Bukit Cikaracak Desa Cikaracak. Seluruhnya berada di bawah naungan Paguyuban Silihwangi Majakuning yang selama ini aktif mendorong peran masyarakat desa sekitar hutan dalam rehabilitasi kawasan konservasi.
Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar, menegaskan penanaman pohon tidak boleh berhenti. Paguyuban, kata dia, bertekad melestarikan ekosistem Ciremai untuk menjamin ketersediaan air di masa depan. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi hutan ditentukan oleh komitmen pemeliharaan jangka panjang yang harus dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah.
“Menanam itu mudah, merawat yang berat. Karena itu kami sepakati pemeliharaan dilakukan setiap 3 bulan hingga tanaman berusia minimal 3 tahun. Kalau tidak dirawat, pohon bisa mati,” ujarnya.
Dalam kurun 2024 hingga Februari 2025, total 100.000 bibit endemik Ciremai disebar ke masyarakat untuk ditanam. Sebanyak 90 persen dilakukan oleh anggota paguyuban di 28 desa penyangga TNGC atau Masyarakat Desa Hutan (MDH). Sementara 10 persen lainnya disebar lintas organisasi dan pegiat lingkungan.
“Bibit pohon ini diproduksi di 6 persemaian yang dikelola paguyuban, masing-masing 3 di Kuningan dan 3 di Majalengka,” ungkap Nandar.
Ia menekankan tanggung jawab KTH tidak hanya pada pemanfaatan kawasan, tetapi juga perlindungan hutan. Mulai dari kewaspadaan terhadap kebakaran hutan hingga melaporkan perburuan liar dan gangguan keamanan kawasan kepada petugas taman nasional.
Jenis pohon yang ditanam hari ini merupakan tanaman endemik dan lokal Ciremai, di antaranya ki teja, huru, puspa, peutag, salam, kuray, kopo, serta spesies asli Ciremai lainnya. Tanaman tersebut dipilih untuk memperkuat struktur tanah dan memulihkan fungsi ekologis kawasan.
Sebanyak 29 personel terlibat langsung dalam kegiatan ini. Mereka terdiri dari anggota KTH, Masyarakat Peduli Api, Pemerintah Desa Argalingga, serta petugas TNGC Resort Argalingga yang dipimpin Wahyu Sudarmadi dan didampingi 4 petugas lainnya. Meski diguyur gerimis dan medan licin, penanaman ditargetkan rampung dalam satu hari.
Perwakilan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai melalui Wahyu Sudarmadi menyampaikan setiap pohon yang ditanam merupakan investasi jangka panjang bagi kelestarian alam.
“Menanam di kawasan taman nasional adalah menanam kebaikan. Manfaatnya tidak dirasakan hari ini atau besok, tetapi akan dinikmati oleh anak cucu kita,” ungkap Jumanta, salah satu anggota paguyuban.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Argalingga. Kasi Pembangunan Desa Argalingga, Atang Supriatna, menyebut kolaborasi antara paguyuban, KTH, pemerintah desa, dan pengelola kawasan menjadi kunci keberhasilan menjaga kelestarian Ciremai.
Paguyuban Silihwangi Majakuning memastikan kegiatan serupa akan terus berlanjut di sejumlah titik lain kawasan Gunung Ciremai. Dari lereng gunung, masyarakat desa penyangga kembali menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam merawat hutan dan menanam harapan bagi masa depan lingkungan./red



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.